Scroll untuk baca berita
AcehDaerahHeadlineWawancara Khusus

LANA Gugat Kabareskrim Polri, dan Bupati Aceh Barat ke Pengadilan Meulaboh.

5723
×

LANA Gugat Kabareskrim Polri, dan Bupati Aceh Barat ke Pengadilan Meulaboh.

Sebarkan artikel ini

NEWS BIDIK, MEULABOH – Lembaga Aspirasi Nasional Aceh (LANA) resmi mengajukan gugatan ke Pengadilan Meulaboh terkait dugaan pembiaran aktivitas tambang ilegal yang disebut-sebut menjadi salah satu pemicu banjir bandang di sejumlah wilayah di Aceh beberapa bulan lalu.

Baca Juga:

SMNI Desak Polda Aceh Tindak Tambang Emas Ilegal di Aceh Barat, Usulkan Koperasi Jadi Solusi

Dalam gugatan tersebut, LANA tidak hanya menyeret Bareskrim Polri,, Dirjen Gakkum ESDM pada Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Gubernur Aceh, serta Bupati Aceh Barat. Rabu, (18/2/2026)

” Kami mengajukan Gugatan Perdata Kepada Bareskri Polri dan Juga Dirjen Gakkum, Serta Gubernur Aceh dan Bupati Aceh Barat, Hal ini kami lakukan atas Absennya aparat Penegakkan Hukum di aceh Barat pada Sektor tambang” ungkap Ketua LANA, 18 Febuari 2026. Teuku Laksamana

Ketua LANA, menyatakan bahwa langkah hukum ini diambil karena pihaknya menilai telah terjadi kelalaian dan lemahnya pengawasan terhadap aktivitas pertambangan ilegal yang beroperasi di sejumlah kawasan hutan dan daerah aliran sungai. Aktivitas tersebut diduga memperparah kerusakan lingkungan, mempercepat sedimentasi sungai, dan meningkatkan risiko banjir bandang.

“Banjir bandang yang terjadi beberapa bulan lalu telah menyebabkan kerusakan rumah warga, fasilitas umum, lahan pertanian, hingga infrastruktur jalan dan jembatan. Ini bukan semata bencana alam, tetapi ada dugaan kuat akibat kerusakan lingkungan yang dibiarkan,” tegasnya.

Menurut LANA, negara juga mengalami kerugian besar dari sisi penerimaan sektor pertambangan karena aktivitas yang berjalan tanpa izin resmi. Selain itu, biaya rehabilitasi pascabencana dan pemulihan infrastruktur turut membebani keuangan daerah maupun pusat tambah Teuku”

Baca Juga:

Kepemimpinan Terpusat Presiden Perkuat Stabilitas Nasional dalam Penanganan Banjir Sumatera

LANA menuntut agar para pihak yang digugat bertanggung jawab secara hukum serta melakukan evaluasi menyeluruh terhadap tata kelola dan penegakan hukum di sektor pertambangan.

Baca Juga:

Diharapkan Kepada Aparat Penegak Hukum . Penertiban Tambang Emas Rakyat Pakai Bahan Kimia Di Aceh Barat Daya.

Mereka juga mendesak adanya audit investigatif untuk menghitung total kerugian negara dan dampak ekologis yang ditimbulkan.

“Perkara tersebut sudah di daftarkan melalui E-Cord Mahkamah Agung, sedang menunggu Penomoran Oleh Pihak Pengadilan Negeri Meulaboh Untuk dapat di agendakan Persidangan”

LANA berharap dengan adanya Gugatan ini, Aparat Penegak Hukum yang ada di Aceh Barat, Nagan Rata, dan Aceh Jaya lebih serius dalam memberantas pertambangan Ilegal.

” kami berharap memang, APH lebih serius memberantas praktik tambang Ilegal, dan tidak ada lagi main mata dengan pelaku kerusakan Lingkungan yang dapat merugikan banyak pihak, serta korban pihak yang tidak melakukan praktek tambang ilegal tersebut’ Tutup Teuku 

Editor Hak Cipta LANA ( Lembaga Aspirasi Nasional Aceh )

Tinggalkan Balasan

Daerah

“Akta cerai atas nama mempelai perempuan tidak pernah tercatat di Pengadilan Agama Jepara. Pernikahan tersebut juga tidak diproses melalui desa maupun KUA, sehingga kuat dugaan dilakukan dengan menggunakan modin aspal,” ungkap Modin Desa Kancilan, Luqman H., menegaskan adanya kejanggalan dalam administrasi pernikahan warga Kancilan yang berlangsung pada 29 Maret 2026.

Aceh

“LSM GMBI Aceh mendesak audit menyeluruh dana kebencanaan Kota Langsa setelah ditemukan dugaan ketidaksesuaian data penerima bantuan. Transparansi dan akuntabilitas dinilai lemah, sehingga berpotensi mencederai keadilan bagi korban banjir. Audit independen dianggap penting untuk memastikan setiap rupiah digunakan tepat sasaran dan dapat dipertanggungjawabkan kepada publik

Daerah

“Polres Bogor membongkar jaringan pengoplosan LPG bersubsidi yang beroperasi di dua lokasi berbeda, menyebabkan kerugian negara mencapai Rp13,2 miliar per bulan. Dari penggerebekan di Sukaraja dan Cileungsi, polisi mengamankan 793 tabung gas berbagai ukuran serta 76 alat suntik. Para pelaku diketahui meraup keuntungan hingga Rp1,3 miliar per hari dengan memindahkan isi gas 3 kilogram subsidi ke tabung 12 kilogram non-subsidi. Kapolres Bogor menegaskan bahwa praktik ini tidak hanya merugikan negara, tetapi juga mencuri hak masyarakat kecil yang berhak menerima subsidi.”

Headline

“Penggerebekan gudang pengoplosan LPG di Cileungsi membuka fakta mengejutkan: praktik ilegal yang berjalan sejak 2025 ini mampu meraup keuntungan hingga Rp13 miliar per bulan. Selain merugikan negara, aktivitas pemindahan gas bersubsidi ke tabung non-subsidi ini dinilai sangat membahayakan keselamatan warga karena dilakukan tanpa standar keamanan. Polisi menegaskan, para pelaku dijerat UU Migas dan pasal pidana umum terkait perbuatan curang serta peredaran barang tidak sesuai standar.”