Scroll untuk baca berita
DaerahJawa TengahNEWS-BIDIK JEPARA

Diduga Manipulasi Status, Warga Kancilan Jepara Gelar Pernikahan Meski Masih Bersuami

1839
×

Diduga Manipulasi Status, Warga Kancilan Jepara Gelar Pernikahan Meski Masih Bersuami

Sebarkan artikel ini

NEWSBIDIK, Jepara — Sebuah peristiwa pernikahan di Desa Kancilan, Kecamatan Kembang, Kabupaten Jepara, menjadi sorotan publik setelah muncul dugaan manipulasi data status pernikahan oleh salah satu pihak. Acara yang berlangsung meriah pada Minggu, 29 Maret 2026 itu, awalnya tidak menimbulkan kecurigaan di tengah masyarakat.

Namun, fakta berbeda mulai terungkap setelah dilakukan penelusuran lebih lanjut. Seorang perempuan berinisial S, yang diketahui sebagai warga Desa Kancilan, diduga masih berstatus sebagai istri sah dari suaminya dan belum memiliki akta cerai, tetapi tetap melangsungkan pernikahan.

Kecurigaan ini diperkuat oleh keterangan dari perangkat desa setempat. Modin Desa Kancilan berinisial L, saat dikonfirmasi oleh tim Newsbidik melalui sambungan telepon, mengungkapkan bahwa dirinya sempat menerima pengajuan pernikahan dari pihak S. Namun, proses tersebut tidak dilanjutkan karena adanya kejanggalan dalam dokumen administrasi.

“Memang ada pengajuan pernikahan, tapi saya tidak berani memproses. Setelah saya cek KTP, statusnya masih memiliki suami dan belum bisa menunjukkan akta cerai, jadi saya pending,” ujar L. Rabu, (01/04/2026) 

Untuk memastikan kebenaran informasi tersebut, tim kemudian menelusuri ke Desa Tubanan. Saat mendatangi kediaman petinggi desa setempat berinisial U, diperoleh keterangan bahwa pihaknya belum mengetahui adanya pernikahan seperti yang dimaksud.

“Kalau yang menikah sekitar tanggal 29 Maret kemarin, sepertinya tidak ada. Coba nanti saya tanyakan ke modin,” ungkap U.

Tak lama berselang, modin Desa Tubanan berinisial SL turut memberikan klarifikasi. Ia menjelaskan bahwa pada tanggal tersebut memang terdapat acara di keluarga S, namun bukan pernikahan yang bersangkutan.

“Yang punya hajat tanggal 29 Maret itu S, tapi acaranya ngunduh mantu anaknya yang bernama KH, dan setahunya statusnya janda,” jelas SL.

Meski demikian, hasil penelusuran lapangan serta perbedaan keterangan antar pihak memunculkan dugaan adanya rekayasa data terkait status S. Indikasi tersebut mengarah pada kemungkinan perubahan status dari masih bersuami menjadi janda secara tidak sah, termasuk dugaan pemalsuan dokumen seperti akta cerai.

Jika dugaan ini terbukti benar, maka perbuatan tersebut berpotensi melanggar hukum pidana. Pelaku dapat dijerat dengan Pasal 263 KUHP tentang pemalsuan surat atau Pasal 264 KUHP terkait pemalsuan dokumen otentik, dengan ancaman hukuman penjara hingga 6 sampai 8 tahun.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada klarifikasi resmi dari pihak S terkait dugaan tersebut. Aparat terkait diharapkan dapat melakukan penyelidikan lebih lanjut guna memastikan kebenaran informasi serta menegakkan aturan hukum yang berlaku.

Kasus ini menjadi perhatian masyarakat, khususnya terkait pentingnya keabsahan dokumen administrasi dalam proses pernikahan, serta perlunya pengawasan yang ketat dari pihak berwenang agar tidak terjadi penyalahgunaan data yang merugikan berbagai pihak.

Daerah

“Akta cerai atas nama mempelai perempuan tidak pernah tercatat di Pengadilan Agama Jepara. Pernikahan tersebut juga tidak diproses melalui desa maupun KUA, sehingga kuat dugaan dilakukan dengan menggunakan modin aspal,” ungkap Modin Desa Kancilan, Luqman H., menegaskan adanya kejanggalan dalam administrasi pernikahan warga Kancilan yang berlangsung pada 29 Maret 2026.

Aceh

“LSM GMBI Aceh mendesak audit menyeluruh dana kebencanaan Kota Langsa setelah ditemukan dugaan ketidaksesuaian data penerima bantuan. Transparansi dan akuntabilitas dinilai lemah, sehingga berpotensi mencederai keadilan bagi korban banjir. Audit independen dianggap penting untuk memastikan setiap rupiah digunakan tepat sasaran dan dapat dipertanggungjawabkan kepada publik

Daerah

“Polres Bogor membongkar jaringan pengoplosan LPG bersubsidi yang beroperasi di dua lokasi berbeda, menyebabkan kerugian negara mencapai Rp13,2 miliar per bulan. Dari penggerebekan di Sukaraja dan Cileungsi, polisi mengamankan 793 tabung gas berbagai ukuran serta 76 alat suntik. Para pelaku diketahui meraup keuntungan hingga Rp1,3 miliar per hari dengan memindahkan isi gas 3 kilogram subsidi ke tabung 12 kilogram non-subsidi. Kapolres Bogor menegaskan bahwa praktik ini tidak hanya merugikan negara, tetapi juga mencuri hak masyarakat kecil yang berhak menerima subsidi.”

Daerah

“Peninjauan langsung oleh Tim Wasops Itwasum Mabes Polri menjadi bukti keseriusan dalam memastikan kesiapan pengamanan arus mudik Lebaran 1447 H. Pos Terpadu Polres Gowa dinilai siap secara operasional, sekaligus menghadirkan pelayanan humanis dengan sentuhan kearifan lokal demi kenyamanan masyarakat.”