Scroll untuk baca berita
HeadlineNasional

Prambanan dan Kebangkitan Diplomasi Peradaban Indonesia

1217
×

Prambanan dan Kebangkitan Diplomasi Peradaban Indonesia

Sebarkan artikel ini

Ketika Warisan Mataram Kuno Menjadi Bahasa Baru Politik Luar Negeri Indonesia

Oleh: Idang Prihantoro

Kunjungan Presiden Prabowo Subianto bersama Perdana Menteri India Narendra Modi ke Candi Prambanan pada 8 Juli 2026 bukan sekadar agenda kenegaraan. Di tengah dunia yang dipenuhi rivalitas geopolitik, perang dagang, dan persaingan teknologi, Indonesia dan India justru memilih berbicara melalui sejarah, budaya, dan peradaban. Pilihan itu mengandung pesan yang jauh lebih dalam daripada seremoni diplomatik biasa.

Dalam hubungan internasional, tidak ada simbol yang dipilih secara kebetulan. Setiap lokasi kunjungan, setiap gestur, bahkan setiap foto resmi merupakan bagian dari komunikasi politik. Karena itu, keputusan mengajak Narendra Modi ke Prambanan, bukan ke tempat lain, menunjukkan bahwa Indonesia ingin membangun hubungan bilateral di atas fondasi sejarah yang telah terjalin selama lebih dari seribu tahun.

Prambanan bukan hanya kompleks candi Hindu terbesar di Indonesia. Ia adalah mahakarya Mataram Kuno yang menjadi saksi hubungan panjang Nusantara dengan India melalui perdagangan, pertukaran ilmu pengetahuan, agama, sastra, dan kebudayaan. Relief Ramayana yang menghiasi dinding candi memperlihatkan bahwa hubungan kedua bangsa lahir melalui dialog peradaban, bukan melalui kolonialisme atau penaklukan. Di sinilah letak makna simboliknya. Ketika Prabowo menjelaskan kisah Ramayana kepada Modi, yang dipertemukan bukan hanya dua pemimpin negara, melainkan dua peradaban yang telah saling mengenal jauh sebelum Indonesia dan India berdiri sebagai negara modern.

Pilihan Prambanan juga menjawab pertanyaan mengapa bukan Borobudur yang menjadi lokasi utama kunjungan. Borobudur merupakan simbol kejayaan Buddhisme di Nusantara, sedangkan Prambanan memiliki keterkaitan langsung dengan warisan Hindu dan epos Ramayana yang menjadi bagian penting dari memori budaya India. Namun, yang lebih penting, Prambanan memperlihatkan bagaimana masyarakat Jawa mengolah pengaruh India menjadi identitas budaya Nusantara. Candi ini bukan salinan India, melainkan bukti kreativitas lokal yang melahirkan sebuah peradaban baru.

Makna kunjungan tersebut semakin relevan jika ditempatkan dalam konteks geopolitik Indo-Pasifik. Saat ini kawasan tersebut menjadi pusat pertumbuhan ekonomi dunia sekaligus arena persaingan kekuatan besar. Indonesia menguasai jalur strategis yang menghubungkan Samudra Hindia dan Samudra Pasifik, sedangkan India menjadi aktor utama di Samudra Hindia. Kedua negara memiliki kepentingan yang sama untuk menjaga stabilitas kawasan, kebebasan navigasi, serta tatanan regional yang terbuka dan inklusif.

Di tengah rivalitas global, Indonesia dan India memilih menunjukkan bahwa kerja sama tidak harus dibangun melalui demonstrasi kekuatan militer atau pembentukan blok keamanan. Mereka memilih membangun kepercayaan melalui sejarah bersama. Pendekatan ini penting karena hubungan yang bertumpu pada kedekatan budaya cenderung lebih tahan terhadap perubahan politik dibandingkan hubungan yang hanya didasarkan pada kepentingan ekonomi jangka pendek.

Kesepakatan konservasi dan restorasi Prambanan menjadi bukti nyata dari pendekatan tersebut. Restorasi bukan sekadar memperbaiki bangunan bersejarah, melainkan bentuk *heritage diplomacy*, yaitu penggunaan warisan budaya sebagai instrumen diplomasi. Melalui proyek ini, Indonesia dan India membuka peluang kerja sama di bidang arkeologi, pendidikan, penelitian, teknologi konservasi, ekonomi kreatif, hingga pariwisata budaya. Batu-batu candi yang dipugar menjadi simbol komitmen kedua negara untuk menjaga hubungan yang telah terjalin selama lebih dari satu milenium.

Momentum ini sekaligus mengingatkan bahwa Indonesia memiliki modal besar yang belum dimanfaatkan secara optimal. Negeri ini bukan hanya kaya akan sumber daya alam, tetapi juga memiliki kekayaan peradaban yang luar biasa, mulai dari Borobudur, Prambanan, Sriwijaya, Majapahit, Muaro Jambi, hingga berbagai tradisi budaya yang telah diakui dunia. Selama ini aset-aset tersebut lebih banyak dipandang sebagai objek pariwisata. Padahal, dalam era modern, warisan budaya telah menjadi sumber soft power.yang mampu meningkatkan pengaruh suatu negara di tingkat global.

Jepang memanfaatkan budaya dan teknologinya sebagai kekuatan diplomasi. Korea Selatan berhasil menjadikan industri kreatif sebagai instrumen pengaruh internasional. India membangun citra global melalui yoga, Ayurveda, dan identitas peradabannya. Indonesia sesungguhnya memiliki peluang yang sama. Kunjungan Prabowo dan Modi ke Prambanan menunjukkan arah baru bahwa kebudayaan dapat menjadi salah satu pilar politik luar negeri Indonesia.

Namun, diplomasi budaya tidak boleh berhenti pada seremoni. Pemerintah perlu menyusun strategi jangka panjang agar momentum ini menghasilkan manfaat yang nyata. Prambanan dapat dikembangkan sebagai pusat diplomasi budaya Asia, lokasi dialog antarperadaban, forum internasional, pusat kajian hubungan Indonesia–India, hingga laboratorium konservasi warisan dunia. Diplomasi budaya juga perlu diintegrasikan dengan pendidikan, riset, ekonomi kreatif, dan pengembangan sumber daya manusia sehingga manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh sektor kebudayaan, tetapi juga memperkuat ekonomi dan posisi Indonesia di dunia.

Pada akhirnya, kunjungan Prabowo dan Modi meninggalkan pelajaran penting bahwa masa depan tidak selalu dibangun dengan melupakan masa lalu. Justru bangsa yang memahami sejarahnya akan memiliki fondasi yang lebih kokoh untuk menghadapi perubahan zaman. Prambanan membuktikan bahwa sebuah candi yang dibangun lebih dari seribu tahun lalu masih mampu berbicara dalam bahasa geopolitik abad ke-21.

Di tengah dunia yang semakin dipenuhi kompetisi kekuatan, Indonesia memiliki kesempatan menawarkan jalan yang berbeda: menjadikan sejarah sebagai sumber inspirasi, budaya sebagai instrumen diplomasi, dan peradaban sebagai fondasi kepentingan nasional. Jika dikelola secara konsisten, Prambanan tidak hanya akan dikenang sebagai mahakarya Mataram Kuno, tetapi juga sebagai simbol kebangkitan diplomasi peradaban Indonesia—sebuah diplomasi yang menghubungkan masa lalu dengan masa depan, memperkuat posisi Indonesia di Indo-Pasifik, dan menjadi salah satu modal penting menuju Indonesia Emas 2045.

Tinggalkan Balasan

Aceh

“Dugaan aktivitas illegal logging di kawasan hutan lindung Beutong Ateuh, Kabupaten Nagan Raya, kembali menjadi sorotan publik. Masyarakat mendesak aparat penegak hukum, KPH Wilayah IV, dan Satgas PKH bertindak tegas, transparan, serta mengusut tuntas apabila ditemukan indikasi keterlibatan pihak-pihak yang melindungi praktik pembalakan liar tersebut. Penegakan hukum tanpa pandang bulu dinilai menjadi kunci menyelamatkan hutan Aceh dari kerusakan yang semakin meluas.”

Daerah

“Diduga sebuah rumah di Ngemplak, Boyolali, digunakan sebagai lokasi penyimpanan dan penjualan LPG tanpa izin. Pemilik rumah mengaku bukan agen maupun pangkalan resmi serta menyampaikan adanya klaim keterlibatan pihak lain, termasuk menyebut oknum kepolisian sebagai ‘backing’. Seluruh pengakuan tersebut masih bersifat sepihak dan belum mendapat konfirmasi dari pihak yang disebut maupun aparat berwenang.”

Aceh

“Persoalan yang mencuat di RSUD Sultan Iskandar Muda tidak hanya menyangkut administrasi dan keuangan, tetapi juga menyentuh kualitas pelayanan publik yang dirasakan langsung oleh masyarakat. Mulai dari keterlambatan pembayaran TPP ASN, persoalan sanitasi, hingga temuan BPK terkait indikasi pembayaran jasa pelayanan kesehatan secara ganda menjadi perhatian yang diharapkan segera ditindaklanjuti melalui evaluasi menyeluruh dan langkah perbaikan tata kelola oleh Pemerintah Kabupaten Nagan Raya.”

Aceh

“Perselisihan terkait dugaan penyadapan pohon karet di Desa Kuala Ligan, Kecamatan Sampoiniet, Kabupaten Aceh Jaya, berujung tragis. Seorang petani berusia 58 tahun meninggal dunia setelah mengalami luka bacok di bagian leher. Pelaku yang diduga emosi usai mengetahui pohon karetnya disadap kemudian menyerahkan diri ke pihak kepolisian untuk menjalani proses hukum lebih lanjut.”

Aceh

Pancasila tidak boleh berhenti sebagai hafalan yang diucapkan setiap peringatan 1 Juni. Nilai-nilainya harus hadir dalam tindakan nyata, mulai dari menghormati perbedaan, menjaga persatuan, hingga mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Masa depan bangsa tidak ditentukan oleh seberapa lantang kita menyebut Pancasila, tetapi oleh seberapa konsisten kita mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.”