NEWSBIDIK,BANJARMASIN – Sejumlah orang tua calon mahasiswa (cama) mengeluhkan informasi penerimaan mahasiswa baru di UIN Antasari yang dinilai belum sepenuhnya jelas. Salah satu yang menjadi sorotan adalah keberadaan Fakultas Sains dan Teknologi (FST) yang tercantum pada laman resmi kampus, namun dinilai membingungkan karena informasi mengenai program studi maupun penerimaan mahasiswa tidak mudah ditemukan. Jum’at,(3/7/2026)
Noor, seorang pensiunan PNS, mengaku kebingungan saat membantu putrinya mencari informasi pendaftaran jalur mandiri.
“Di laman ada gambar sambutan pimpinan dengan judul Fakultas Sains dan Teknologi, tetapi ketika dicari informasi fakultas, jurusan, maupun formulir pendaftarannya tidak jelas. Anak-anak yang ingin mendaftar akhirnya bingung,” ujarnya.
Keluhan serupa juga disampaikan keluarga Susan yang berencana mengikuti seleksi jalur mandiri. Menurut mereka, informasi mengenai fakultas tersebut belum memberikan gambaran yang utuh mengenai program studi yang tersedia maupun lokasi penyelenggaraannya.
Pengalaman Mahasiswa Menjadi Catatan
Selain persoalan informasi akademik, sejumlah pengalaman calon mahasiswa maupun mahasiswa baru turut menjadi bahan pembicaraan masyarakat.
Keluarga Noor menceritakan pengalaman kerabatnya, Nur Abdalani, yang awalnya mendaftar Program Studi Ilmu Tafsir ketika proses penerimaan masih berpusat di Banjarmasin. Namun setelah diterima, proses perkuliahan dilaksanakan di Kampus Banjarbaru.
Perubahan lokasi tersebut, menurut keluarga, semestinya disampaikan secara lebih rinci sejak awal sehingga calon mahasiswa dapat mempertimbangkan berbagai aspek, termasuk jarak tempuh, biaya, dan kesiapan tinggal di lokasi baru.
Tersesat Saat Mencari Kampus
Cerita lain datang dari keluarga Pak Darman. Putrinya, Ernawati, disebut pernah tersesat saat mencari lokasi kampus di Banjarbaru.
Menurut penuturan keluarga, mereka salah memasuki jalur hingga tiba di kawasan yang dahulu dikenal sebagai eks lokalisasi Pembaruan di wilayah Batu Besi.
Pak Darman kemudian bertanya kepada seorang warga mengenai lokasi UIN Antasari. Kesalahpahaman dalam percakapan tersebut justru menjadi pengalaman yang dikenang keluarga sebagai peristiwa yang memalukan sekaligus mengkhawatirkan.
Peristiwa itu menjadi pengingat bahwa akses menuju kampus masih perlu didukung petunjuk arah yang memadai agar tidak membingungkan pendatang, khususnya orang tua dan calon mahasiswa dari luar daerah.
Enam Catatan untuk UIN Antasari
Berdasarkan berbagai cerita yang dihimpun, terdapat sejumlah persoalan yang dinilai perlu menjadi perhatian pihak kampus.
Pertama, kejelasan mengenai keberadaan Fakultas Sains dan Teknologi. Masyarakat berharap UIN Antasari menjelaskan secara terbuka apakah fakultas tersebut sudah resmi beroperasi, masih dalam tahap perencanaan, atau belum membuka penerimaan mahasiswa.
Kedua, informasi mengenai fakultas maupun program studi yang telah berpindah dari Kampus Banjarmasin ke Kampus Banjarbaru perlu disampaikan secara rinci sejak awal proses penerimaan mahasiswa baru.
Ketiga, pengelolaan laman resmi kampus diharapkan lebih transparan dan akurat sehingga tidak menimbulkan kebingungan maupun persepsi yang berbeda di tengah masyarakat.
Keempat, akses menuju kampus Banjarbaru juga menjadi perhatian. Sejumlah orang tua berharap tersedia penunjuk arah yang lebih jelas serta penerangan jalan yang memadai agar pengunjung merasa aman, terutama pada malam hari.
Kelima, pengalaman sebagian mahasiswa yang merasa kurang memperoleh informasi mengenai lokasi perkuliahan menjadi evaluasi penting agar tidak terjadi kesalahpahaman yang dapat memengaruhi keputusan melanjutkan studi.
Keenam, masyarakat meminta penjelasan resmi mengenai status Fakultas Sains dan Teknologi sehingga tidak menimbulkan pertanyaan yang terus berulang: apakah fakultas tersebut sudah benar-benar ada dan menerima mahasiswa, atau masih sebatas rencana pengembangan institusi.
Harapan kepada Pimpinan Kampus
Sebagai salah satu perguruan tinggi keagamaan Islam negeri terbesar di Kalimantan Selatan, UIN Antasari diharapkan terus meningkatkan kualitas pelayanan informasi kepada masyarakat.
Keterbukaan informasi dinilai menjadi bagian penting dalam membangun kepercayaan publik, khususnya pada masa penerimaan mahasiswa baru ketika calon mahasiswa dan orang tua membutuhkan kepastian mengenai program studi, lokasi perkuliahan, fasilitas, hingga prospek pendidikan yang ditawarkan.
Berbagai masukan dari masyarakat tersebut diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi bagi pimpinan universitas beserta seluruh jajaran, sehingga proses penerimaan mahasiswa baru ke depan berlangsung lebih informatif, transparan, dan tidak menimbulkan kebingungan di kalangan calon mahasiswa maupun keluarganya.
Baca Juga
Dugaan Cacat Administrasi Warnai Penjaringan Rektor UIN Antasari Banjarmasin





















