Scroll untuk baca berita
HeadlineNasionalSeni & BudayaWawancara Khusus

Makna Filosofis “Swasti Luhur Ing Pribadi”: Pesan Kebijaksanaan dari Paseban Srimulih

7992
×

Makna Filosofis “Swasti Luhur Ing Pribadi”: Pesan Kebijaksanaan dari Paseban Srimulih

Sebarkan artikel ini

NEWS BIDIK – SLEMAN,Dalam kebudayaan Nusantara yang sarat dengan nilai-nilai spiritual dan filosofi luhur, muncul kembali ajaran yang mengajak manusia untuk memahami arti kesejahteraan sejati melalui bahasa dan makna kata kuno. Seorang pemerhati budaya, Sriono dari Paseban Srimulih, memaknai istilah kuno “Swasti Luhur Ing Pribadi, Keluarga, Sesama, Nagara, lan Bhawana Bhadra” sebagai doa universal bagi keseimbangan hidup dan keharmonisan semesta.

Menurut Sriono, kata “Swasti” berarti sejahtera, sedangkan “Luhur” bermakna mulia. Sementara itu, imbuhan “Ing” menunjukkan tempat atau objek, menggambarkan di mana nilai kemuliaan dan kesejahteraan itu hendaknya diwujudkan.

baca juga

Kapolri Berikan Tali Asih kepada Keluarga Komjen (Purn) Moehammad Jasin dan Veteran Seroja

Ia menjelaskan lebih dalam, bahwa banyak kata dalam bahasa Jawa Kuno atau Sansekerta memiliki dimensi makna yang bersifat spiritual. Misalnya, kata “Swarga” bukan sekadar surga, tetapi berasal dari akar kata “Swar” (cahaya) dan “Raga” (tubuh), yang berarti cahaya yang hidup di dalam tubuh manusia. Adapun “Kaswargan” bermakna sangkaning swar ing raga — perjalanan cahaya kehidupan dalam diri manusia yang terpantul di jagad nyata.

baca juga

Semarak HUT ke-80 Korps Brimob Polri, Batalyon C Pelopor Polda Aceh Gelar Donor Darah di Nagan Raya

Lebih jauh, istilah “Bhawana Bhadra” dimaknai sebagai bumi di bawah sinar rembulan, yang dalam konteks spiritual dapat pula diartikan sebagai keadaan batin yang diterangi cahaya kesadaran. Dalam versi lain, istilah “Surya Bhadra” atau “Bhawana Bhadra” juga bisa menunjuk pada nama tempat atau suasana tertentu yang menjadi ruang untuk memuliakan kehidupan.

“Makna-makna ini bukan sekadar susunan kata, melainkan paramasabda — doa dan penghormatan kepada kehidupan itu sendiri. Doa yang berlaku untuk diri, siapa pun, apa pun, dan di mana pun kita berada,” ungkap Sriono.

Melalui ungkapan “Swasti Luhur Ing Pribadi, Keluarga, Sesama, Nagara, lan Bhawana Bhadra”, Paseban Srimulih mengajak masyarakat untuk kembali pada nilai-nilai dasar kemanusiaan: menjaga kesejahteraan diri, mengasihi sesama, dan merawat bumi sebagai tempat berpijak bersama.

baca juga

Presiden Prabowo Tegaskan Pasal 33 UUD 1945 Jadi Fondasi Pembangunan Ekonomi Nasional

Pesan kebijaksanaan ini menjadi relevan di tengah kehidupan modern yang kian menjauh dari akar budaya. Sriono menegaskan bahwa memahami makna kata leluhur bukan hanya menggali sejarah bahasa, tetapi juga menelusuri jejak spiritualitas Nusantara yang berakar pada harmoni antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.

Jakarta

Rotasi dan mutasi terhadap 199 perwira tinggi dan perwira menengah Polri merupakan bagian dari dinamika organisasi serta pembinaan karier untuk memperkuat kinerja institusi. Penempatan pejabat baru diharapkan mampu menjaga integritas, meningkatkan profesionalisme, dan menghadirkan pelayanan kepolisian yang responsif serta berorientasi pada kepentingan masyarakat.”

Headline

Wartawan Bekasi Raya menyatukan barisan dan akan menggelar aksi damai di Kantor Bupati Bekasi untuk menyuarakan pentingnya penghormatan terhadap kemerdekaan pers serta perlindungan terhadap kerja jurnalistik. Aksi tersebut juga mendesak Pemkab Bekasi melakukan pemeriksaan objektif terkait dugaan perlakuan tidak patut terhadap seorang wartawan saat menjalankan tugas konfirmasi.

Biografi

Dalam setiap lembar sejarah Nusantara, tersimpan kisah perjuangan, pengorbanan, kesetiaan, dan keberanian para tokoh yang telah meletakkan fondasi kejayaan bangsa. Salah satu sosok yang memiliki tempat istimewa dalam perjalanan sejarah…

Headline

Dugaan adanya praktik pembekingan tambang emas ilegal di Kabupaten Lebak, Banten, memunculkan pertanyaan publik terhadap efektivitas pengawasan dan penegakan hukum. Dugaan keterlibatan oknum aparat berpangkat bintang dua perlu diusut secara profesional, transparan, dan berdasarkan bukti guna memastikan kebenaran informasi serta menjaga kepercayaan masyarakat terhadap institusi penegak hukum.

Penertiban ini bukan semata-mata pemeriksaan kendaraan, tetapi juga menjadi momentum untuk memberikan sosialisasi kepada masyarakat agar semakin sadar dan patuh terhadap kewajiban pajak kendaraan bermotor. Kami mengimbau masyarakat untuk mengecek status pajaknya dan segera memenuhi kewajiban sesuai ketentuan yang berlaku.”
— Awal Muhaddir SR, S.E., M.Si., Kasi Pendataan dan Penetapan UPTD PPA Wilayah XII BPKA Aceh Barat.