Scroll untuk baca berita
BloraHukum & KriminalNasionalPeristiwa

Restorative Justice Pasca-P21 di Blora: Polisi Diduga Langgar Prosedur, Jaksa Dikesampingkan

1007
×

Restorative Justice Pasca-P21 di Blora: Polisi Diduga Langgar Prosedur, Jaksa Dikesampingkan

Sebarkan artikel ini

NEWS BIDIK, BLORA JAWA TENGAH

Kasus.Penangkapan.tiga wartawan di Kabupaten Blora pada Mei 2025 memasuki babak baru yang menimbulkan tanda tanya besar. Setelah menjalani penahanan selama 90 hari di Mapolres Blora, ketiganya—JT (55), FY (41), dan SY (45)—tiba-tiba dibebaskan melalui mekanisme Restorative Justice (RJ).

baca juga

Presiden Prabowo Subianto Apresiasi Guru dan Kepala Sekolah Rakyat: Anda Sedang Memutus Rantai Kemiskinan 

Alih-alih meredam polemik, pembebasan ini justru memunculkan dugaan pelanggaran prosedur hukum dan tumpang tindih kewenangan antar lembaga penegak hukum.

Status P21, Tapi Polisi Jalankan RJ

Dalam sistem hukum pidana, RJ umumnya dilakukan di tahap penyidikan. Namun, dalam kasus ini, RJ diterapkan setelah berkas perkara dinyatakan lengkap (P21) oleh Kejaksaan. Artinya, kendali perkara sudah sepenuhnya berada di tangan Jaksa, bukan lagi Polisi.

baca juga 

Terbongkar! Gudang Penimbunan Solar Subsidi di jalan kiyai Sanusi pangkalan,ngaringan Diduga Milik Oknum Berinisial,AN

Kuasa hukum para wartawan, John L. Situmorang, S.H., M.H., menegaskan bahwa langkah Polres Blora mengeksekusi RJ pada tahap pasca-P21 patut dipertanyakan.

“Ini bukan sekadar keadilan restoratif. Ini menyisakan pertanyaan mendasar secara prosedural hukum. Jika perkara sudah P21, bukankah ini sudah menjadi domain Jaksa?” tegas John dalam konferensi pers.

Kronologi: Ditolak, Lalu Mendadak Dimediasi

Sejak awal, pihak wartawan disebut telah berupaya menyelesaikan perkara secara damai. Namun, pelapor—oknum TNI AD berinisial RHP—berulang kali menolak mediasi. Bahkan upaya penyidik untuk mempertemukan kedua belah pihak tak membuahkan hasil.

baca juga 

Kapolri Berikan Tali Asih kepada Keluarga Komjen (Purn) Moehammad Jasin dan Veteran Seroja

Situasi berubah drastis pada hari ke-30 masa perpanjangan penahanan terakhir yang dikeluarkan Ketua PN Blora. Secara tiba-tiba, RHP memaafkan para wartawan, dan RJ langsung diterapkan. Hanya dalam hitungan jam, ketiga wartawan yang sebelumnya berstatus terdakwa resmi dibebaskan.

Fakta BAP: Indikasi Jebakan?

Tak berhenti di sana, kuasa hukum juga mengungkap fakta mengejutkan dari Berita Acara Pemeriksaan (BAP). Disebutkan, uang Rp4 juta justru diberikan lebih dulu oleh pihak pelapor melalui seseorang bernama Didik, yang mengaku sebagai kepala gudang milik RHP

Kriminalisasi Pers atau Penegakan Hukum?

Kasus ini menimbulkan pertanyaan lebih luas: apakah penangkapan dan penahanan tiga wartawan ini merupakan bentuk penegakan hukum, atau justru kriminalisasi terhadap kebebasan pers?

baca juga 

Munir Resmi Maju Calon Ketua Umum PWI 2025–2030 Siap Akhiri Dualisme dan Satukan Organisasi

Dengan adanya dugaan pelanggaran prosedur pasca-P21, publik kini menunggu langkah tegas dari Kejaksaan maupun institusi terkait untuk mengurai benang kusut kasus yang menyita perhatian masyarakat Blora ini.

Aceh

Polri, khususnya Polres Nagan Raya, berkomitmen mendukung penuh program swasembada pangan nasional. Kami siap bersinergi dengan pemerintah daerah, TNI, dan masyarakat dalam mengawal serta mendukung program pertanian, khususnya komoditas jagung, sebagai upaya memperkuat ketahanan pangan dan meningkatkan kesejahteraan petani,” ujar Wakapolres Nagan Raya Kompol Humaniora Sembiring, S.Kom., S.I.K.

Aceh

“Kesigapan warga bersama aparat kepolisian berhasil menyelamatkan nyawa seorang bocah 11 tahun yang diserang ular phyton di kawasan rawa Desa Suak Puntong, Kecamatan Kuala Pesisir, Kabupaten Nagan Raya. Peristiwa ini menjadi pengingat pentingnya kewaspadaan masyarakat terhadap potensi bahaya satwa liar di lingkungan sekitar permukiman,” ujar Kapolsek Kuala Pesisir IPDA Ghozi Al Falah, S.Tr.K.

Aceh

“Pemerintah Kabupaten Nagan Raya mengusulkan pembangunan 609 unit hunian sementara bagi warga terdampak bencana hidrometeorologi di Kecamatan Beutong Ateuh Banggalang. Kami berharap pembangunan ini dapat segera direalisasikan, mengingat para pengungsi akan menghadapi bulan suci Ramadan,” ujar Bupati Nagan Raya, Dr. TR. Keumangan, S.H., M.H.

Jawa Tengah

Dugaan pungutan liar dalam pelaksanaan Program PTSL di Desa Kawengen semakin menguat setelah ratusan warga mengaku dipungut biaya Rp500.000 per bidang tanah, jauh di atas ketentuan resmi. Meski Kepala Desa Marjani berdalih biaya tersebut telah disepakati dan diketahui sejumlah pihak, warga menilai praktik ini sebagai bentuk penyalahgunaan wewenang yang harus segera ditindaklanjuti Aparat Penegak Hukum (APH). Media dan warga mendesak investigasi penuh untuk memastikan transparansi dan keadilan dalam program sertifikasi tanah tersebut.”