NEWS BIDIK, MAGELANG — Di balik kesederhanaannya sebagai tanaman liar, Dodonaea viscosa menyimpan nilai besar bagi kesehatan, pemulihan lingkungan, hingga tradisi budaya Nusantara. Tumbuhan yang tumbuh luas di wilayah tropis dan subtropis ini telah lama dimanfaatkan masyarakat adat Indonesia sebagai tanaman obat, penanda kebangkitan lahan, sekaligus bahan ritual bernilai spiritual.
Makna Filosofis “Swasti Luhur Ing Pribadi”: Pesan Kebijaksanaan dari Paseban Srimulih
Di Indonesia, Dodonaea viscosa dikenal dengan beragam nama lokal, antara lain kayu Tengsek di Jawa, daun Dollu di Papua, dan kaswa di Bali. Keberadaannya telah menyatu dengan kehidupan masyarakat selama berabad-abad, jauh sebelum ilmu botani modern mendokumentasikan khasiatnya secara ilmiah. Rabu, (17/12/2025).
Khasiat Medis dalam Pengobatan Tradisional
Dalam praktik pengobatan tradisional, Dodonaea viscosa dikenal memiliki sifat antibakteri dan anti-inflamasi. Ekstrak daunnya dilaporkan efektif melawan bakteri Staphylococcus aureus, sehingga kerap dimanfaatkan masyarakat untuk perawatan luka guna mencegah infeksi.

Daun yang dipanaskan dan ditempelkan pada bagian tubuh tertentu dipercaya dapat mempercepat penyembuhan luka serta menghentikan pendarahan ringan. Selain itu, rebusan daun atau bagian tanaman lainnya digunakan untuk meredakan rematik, asam urat, pembengkakan, diare, gangguan pencernaan, hingga wasir.
Di sejumlah daerah, Dodonaea viscosa juga dimanfaatkan sebagai pertolongan pertama tradisional pada gigitan ular, meskipun para ahli menegaskan bahwa praktik ini tidak menggantikan penanganan medis modern.
Pohon Perintis Penanda Pemulihan Alam
Tak hanya bermanfaat bagi kesehatan manusia, Dodonaea viscosa juga memainkan peran penting dalam ekosistem. Tanaman ini dikenal sebagai pohon perintis, yang kerap tumbuh pertama kali di lahan-lahan terganggu, seperti kawasan pasca-erupsi gunung berapi atau bekas perladangan.
Di Jawa Tengah, kayu Tengsek telah ditanam dan tumbuh subur di berbagai gunung, antara lain Gunung Merapi, Merbabu, Andong, Sumbing, Sindoro, dan Lawu. Kehadirannya sering dianggap sebagai indikator alami kesuburan tanah, menandakan bahwa lahan mulai pulih dan siap ditumbuhi vegetasi lain.
Dengan sistem perakaran yang kuat dan adaptif, tanaman ini berperan menahan erosi, memperbaiki struktur tanah, serta menciptakan mikroklimat yang mendukung regenerasi ekosistem.
Adaptif dari Pegunungan hingga Perkotaan
Menariknya, Dodonaea viscosa tidak hanya mampu hidup di dataran tinggi. Tanaman ini terbukti adaptif dan dapat tumbuh di wilayah perkotaan seperti Yogyakarta, Kota Magelang, Jakarta, hingga Bogor.
Sejak mulai digemari dan dibudidayakan secara lebih luas pada 2016, tingkat keberhasilan tumbuh tanaman ini dilaporkan mencapai sekitar 95 persen, dengan catatan utama: wajib mendapatkan paparan sinar matahari penuh dan tidak dianjurkan ditanam di bawah naungan.
Secara botani, Dodonaea viscosa termasuk tanaman berbunga dari famili Sapindaceae, dengan beberapa varietas yang dikenal, antara lain:
Dodonaea viscosa var. viscosa
Dodonaea viscosa var. angustifolia
Dodonaea viscosa var. linearis
Nilai Budaya dan Spiritualitas
Di luar fungsi medis dan ekologis, kayu Tengsek memiliki nilai budaya dan spiritual yang kuat, khususnya di Jawa. Kayunya dipercaya memiliki tuah atau kekuatan gaib, sehingga sering digunakan sebagai bahan pembuatan warangka (sarung keris), tasbih, dan benda pusaka lainnya.
Dalam sejumlah tradisi, kayu Tengsek juga dimanfaatkan sebagai jimat atau perlengkapan upacara adat, mencerminkan hubungan spiritual masyarakat Nusantara dengan alam serta warisan kepercayaan leluhur yang terus dijaga lintas generasi.
Pemanfaatan Global dan Catatan Kehati-hatian
Di beberapa wilayah dunia, buah Dodonaea viscosa yang bercita rasa pahit bahkan digunakan sebagai pengganti hop dalam pembuatan bir, menunjukkan potensi tanaman ini dalam konteks industri dan pangan alternatif.
Namun demikian, para ahli mengingatkan bahwa beberapa bagian tanaman ini mengandung saponin dan senyawa sianogenik. Oleh karena itu, pemanfaatannya—terutama untuk konsumsi internal—perlu dilakukan secara hati-hati dan sebaiknya dikonsultasikan dengan tenaga kesehatan atau ahli herbal yang kompeten.
Warisan Hayati yang Perlu Dijaga
Sebagai tanaman yang menyatukan khasiat obat, peran ekologis, dan nilai budaya, Dodonaea viscosa menjadi representasi nyata kekayaan hayati Nusantara. Upaya konservasi, penelitian berkelanjutan, serta pemanfaatan yang bertanggung jawab menjadi kunci agar manfaat tanaman ini dapat diwariskan kepada generasi mendatang secara aman dan berkelanjutan.




















