Scroll untuk baca berita
BoyolaliJawa Tengah

Tambang Diduga Ilegal di Desa Tegalgiri Boyolali Rugikan Lingkungan dan Masyarakat, Pemilik Disebut Anggota DPRD Aktif

516
×

Tambang Diduga Ilegal di Desa Tegalgiri Boyolali Rugikan Lingkungan dan Masyarakat, Pemilik Disebut Anggota DPRD Aktif

Sebarkan artikel ini

NEWS-BIDIK,//Boyolali, Jawa Tengah  Aktivitas penambangan tanpa izin (PETI) yang diduga berlangsung di Desa Tegalgiri, Kecamatan Nogosari, Kabupaten Boyolali, menyita perhatian publik. Pasalnya, kegiatan pertambangan tersebut telah beroperasi selama puluhan tahun tanpa kejelasan legalitas, serta menyebabkan kerusakan lingkungan dan mengganggu kenyamanan warga sekitar

.Kamis.(19/6/2025).

Pantauan langsung tim awak media di lokasi mengungkapkan pemandangan mengejutkan: deretan alat berat dan puluhan dump truk hilir mudik mengangkut material tambang seperti batu dan padas urug dari perut bumi. Kegiatan tersebut diduga telah berlangsung bertahun-tahun, tanpa adanya dokumen resmi yang membuktikan kelengkapan izin operasional.

Saat diminta konfirmasi terkait legalitas kegiatan tambang, pihak pengelola tidak dapat menunjukkan satu pun dokumen perizinan seperti:

Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL),

Surat Keputusan dari Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi Jawa Tengah,

Surat Izin Penambangan Batuan (SIPB) dari Dinas ESDM,

Kajian Tekno Ekonomi,

Izin Tata Ruang (ITR) dari Dinas Penataan Ruang (DISTARU) Kabupaten Boyolali,

dan Wilayah Izin Usaha Pertambangan (WIUP).

Mirisnya, lokasi tambang tersebut diketahui milik seseorang berinisial DNC yang disebut-sebut masih aktif menjabat sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Boyolali. Jika benar, hal ini mengindikasikan penyalahgunaan wewenang sebagai wakil rakyat yang seharusnya menjadi teladan dalam menjaga kelestarian lingkungan.

Dampak Serius bagi Lingkungan dan Masyarakat

Aktivitas tambang ilegal tidak hanya merugikan negara, namun juga membawa dampak signifikan terhadap lingkungan dan masyarakat, di antaranya:

Kerusakan Lingkungan: Penambangan liar menyebabkan erosi tanah, hilangnya habitat satwa, dan pencemaran lingkungan. Dalam banyak kasus, bahan kimia berbahaya seperti merkuri digunakan tanpa kontrol.

Gangguan Kesehatan: Debu akibat lalu-lalang dump truk dan potensi pencemaran tanah serta air dapat menimbulkan gangguan kesehatan bagi warga sekitar.

Kerugian Ekonomi Negara: Negara dirugikan karena tidak memperoleh pemasukan dari pajak dan royalti. Aktivitas tambang ilegal juga dapat merusak iklim usaha perusahaan yang memiliki izin resmi.

Konflik Sosial: Kehadiran tambang ilegal berpotensi menimbulkan ketegangan antara warga dan pelaku usaha, serta meningkatkan risiko gangguan keamanan.

Landasan Hukum dan Ancaman Pidana

Kegiatan pertambangan tanpa izin melanggar beberapa peraturan perundang-undangan, antara lain:

1. Pasal 35 dan Pasal 158 UU No. 3 Tahun 2020 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara: Mengatur larangan dan sanksi pidana bagi kegiatan penambangan tanpa izin.

2. UU No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup: Memberi dasar hukum untuk menindak perusakan lingkungan akibat aktivitas ilegal.

Sanksi pidana yang diatur dalam UU tersebut mencakup hukuman penjara hingga denda miliaran rupiah bagi pelaku usaha yang terbukti melanggar.

Belum Ada Klarifikasi dari Pemilik Tambang

Hingga berita ini diturunkan, pihak berwenang maupun pemilik lahan tambang berinisial DNC belum memberikan klarifikasi atas dugaan aktivitas penambangan ilegal ini. Masyarakat dan pemerhati lingkungan mendesak pemerintah daerah serta aparat penegak hukum untuk segera mengambil langkah tegas guna menghentikan aktivitas tambang yang merusak dan tidak berizin tersebut.

Redaksi akan terus memantau perkembangan kasus ini untuk memastikan transparansi dan penegakan hukum berjalan sebagaimana mestinya.

Tinggalkan Balasan

Jawa Tengah

Selain SMKN 5 Semarang, dua sekolah lainnya yang turut menerima penghargaan sebagai SMA/SMK Teraktif adalah SMA Negeri 3 Semarang dan SMA Negeri 6 Semarang.
Program Rengganis Pintar merupakan upaya Disperindag Jawa Tengah untuk mendorong penerapan konsep green industry di dunia pendidikan sekaligus meningkatkan kesadaran generasi muda terhadap pentingnya industri yang ramah lingkungan sebagai strategi memperkuat daya saing dan ekspor daerah.

Daerah

“Harapan seorang warga Desa Lemahireng Krajan, Kecamatan Bawen, Kabupaten Semarang, menjadi potret masih adanya masyarakat yang merasa belum tersentuh Program Bantuan Pangan pemerintah. Riadi (Adi), pekerja serabutan dengan penghasilan tidak menentu, memohon keadilan agar dapat masuk dalam daftar penerima bantuan. Pemerintah desa menyatakan akan melakukan verifikasi ulang dan berkoordinasi dengan Dinas Sosial Kabupaten Semarang, sementara hingga berita ini diterbitkan belum ada tanggapan resmi dari pihak Istana Kepresidenan. NEWSBIDIK akan terus mengawal perkembangan informasi ini sesuai fakta dan keterangan resmi dari pihak terkait.”

BREBES

“Warga berharap proyek P3-TGAI di Desa Karangsambung dilaksanakan sesuai spesifikasi teknis dan mendapat pengawasan maksimal. Dugaan penggunaan material yang dipertanyakan serta kedalaman pondasi yang dinilai minim perlu mendapat klarifikasi dari pihak pelaksana maupun instansi terkait agar kualitas bangunan irigasi benar-benar terjamin.”

Jawa Tengah

“Saya menegaskan bahwa seluruh proses pengangkatan jabatan yang saya terima telah melalui mekanisme dan ketentuan kepegawaian yang berlaku sebagaimana tertuang dalam Surat Keputusan (SK). Tidak benar jika disebut saya dipromosikan tanpa prosedur atau melalui praktik jual beli jabatan,” tegas NYT dalam hak jawab yang disampaikan kepada redaksi.

Daerah

“Diduga sebuah rumah di Ngemplak, Boyolali, digunakan sebagai lokasi penyimpanan dan penjualan LPG tanpa izin. Pemilik rumah mengaku bukan agen maupun pangkalan resmi serta menyampaikan adanya klaim keterlibatan pihak lain, termasuk menyebut oknum kepolisian sebagai ‘backing’. Seluruh pengakuan tersebut masih bersifat sepihak dan belum mendapat konfirmasi dari pihak yang disebut maupun aparat berwenang.”