Scroll untuk baca berita
DPRD KAB PANGANDARANJawa BaratNEWSBIDIK PANGANDARANPolitik

Ketua DPRD Pangandaran Soroti Kebijakan TPI, Dorong Perlindungan Nyata bagi Nelayan Kecil

1447
×

Ketua DPRD Pangandaran Soroti Kebijakan TPI, Dorong Perlindungan Nyata bagi Nelayan Kecil

Sebarkan artikel ini

NEWSBIDIK, PANGANDARAN — Ketua DPRD Kabupaten Pangandaran, Asep Noordin, menegaskan pentingnya kebijakan yang berpihak kepada nelayan kecil saat meninjau aktivitas pelelangan ikan di KUD Minasari Pangandaran, Senin (2/3/2026).

Menurut Asep, tata kelola Tempat Pelelangan Ikan (TPI) di Pangandaran harus dijalankan berdasarkan regulasi yang berlaku sekaligus memberikan perlindungan nyata bagi nelayan skala kecil.

Ia menjelaskan, pengelolaan sektor perikanan daerah tidak dapat dipisahkan dari kerangka hukum yang telah ditetapkan pemerintah. Hal tersebut merujuk pada Undang‑Undang Nomor 7 Tahun 2016 serta Peraturan Daerah Kabupaten Pangandaran Nomor 20 Tahun 2016.

Baca Juga:

DPRD Pangandaran Soroti Pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis, Ingatkan Potensi Penyimpangan di SPPG 

“Aturan tersebut mengamanatkan pemerintah daerah untuk memberikan perlindungan dan kepastian usaha bagi nelayan kecil, termasuk dalam kebijakan fiskal dan operasional di TPI,” kata Asep.

Berdasarkan data yang dihimpun, nilai transaksi di TPI Kabupaten Pangandaran sepanjang 2025 mencapai sekitar Rp33 miliar. Dari angka tersebut, pemerintah daerah memperoleh retribusi sebesar dua persen atau sekitar Rp660 juta sebagai Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Namun Asep menilai besaran tersebut tidak sebanding dengan kepentingan perlindungan bagi nelayan kecil. Menurutnya, persoalan tersebut bukan sekadar soal penerimaan daerah, melainkan tanggung jawab pemerintah dalam menjaga keberlangsungan ekonomi masyarakat pesisir.

Baca Juga:

275 Pelaku Wisata Air di Pangandaran Belum Kantongi NIB, DPRD Soroti Potensi Hilangnya PAD 

Dalam pernyataan sikapnya, DPRD Pangandaran mendorong tiga kebijakan utama bagi nelayan kecil yang menggunakan kapal di bawah 10 gross ton (GT), yang di Pangandaran rata-rata berukuran sekitar 5 GT.

Tiga kebijakan tersebut meliputi pembebasan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) atas hasil tangkapan nelayan, pembebasan retribusi daerah, serta pembebasan kewajiban Surat Izin Usaha Perikanan (SIUP) sesuai pengecualian yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2016.

Baca Juga:

Paripurna DPRD Pangandaran Bahas Perubahan APBD 2025 dan Empat Raperda Inisiatif 

Selain itu, DPRD juga meminta pemerintah daerah segera menerbitkan Peraturan Bupati (Perbup) sebagai dasar teknis pengelolaan TPI agar kebijakan tersebut memiliki kepastian hukum dan dapat segera diterapkan.

Asep menilai langkah tersebut semakin relevan di tengah dinamika global yang berpotensi memicu kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), yang secara langsung akan meningkatkan biaya operasional melaut bagi nelayan.

“Kebijakan pembebasan pajak dan retribusi bisa menjadi langkah strategis untuk menjaga daya tahan ekonomi masyarakat pesisir,” ujarnya.

Dukungan terhadap usulan tersebut juga datang dari tokoh masyarakat Pangandaran, M. Yusuf. Ia menilai sikap DPRD merupakan bentuk keberpihakan terhadap nelayan yang tengah menghadapi tekanan ekonomi.

“Inilah saatnya DPRD pasang badan untuk nelayan. Bukan soal besar kecilnya kontribusi ke daerah, tetapi bagaimana ekonomi nelayan bisa bangkit,” kata Yusuf.

Sementara itu, Sekretaris KUD Minasari Pangandaran, Dartam Sutarjo, menilai rencana pembebasan retribusi akan berdampak langsung pada mekanisme harga ikan di TPI.

Menurutnya, pengurangan beban biaya dapat meningkatkan nilai jual ikan di tingkat nelayan sekaligus memperbaiki harga beli bagi pemasar.

“Ketika retribusi dibebaskan atau diringankan, nilai jual nelayan dan nilai beli pemasar menjadi lebih baik. Ini tentu akan berpengaruh terhadap kesejahteraan nelayan,” ujar Dartam.

Baca Juga:

DPRD Pangandaran Usul Kawasan Kelapa Terpadu, Bidik Industri dan Wisata Pesisir 

Ia berharap wacana tersebut tidak berhenti sebagai pernyataan politik, tetapi segera diwujudkan dalam kebijakan konkret yang dapat dirasakan manfaatnya oleh nelayan kecil di Kabupaten Pangandaran

Tinggalkan Balasan

Jawa Barat

“Dugaan pungutan liar di kawasan Jembatan Timbang Tolongas, Sumedang, menjadi perhatian serius karena sejumlah truk bermuatan terlihat melanjutkan perjalanan tanpa masuk ke area penimbangan setelah diduga terjadi transaksi. Namun, dugaan tersebut masih memerlukan klarifikasi dan pembuktian dari pihak pengelola UPKB serta instansi terkait. Transparansi pemeriksaan dan penegakan aturan diperlukan untuk memastikan pelayanan berjalan sesuai ketentuan.”

Headline

Wartawan Bekasi Raya menyatukan barisan dan akan menggelar aksi damai di Kantor Bupati Bekasi untuk menyuarakan pentingnya penghormatan terhadap kemerdekaan pers serta perlindungan terhadap kerja jurnalistik. Aksi tersebut juga mendesak Pemkab Bekasi melakukan pemeriksaan objektif terkait dugaan perlakuan tidak patut terhadap seorang wartawan saat menjalankan tugas konfirmasi.

Daerah

“Percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana hidrometeorologi di Nagan Raya membutuhkan sinergi, komitmen, dan kerja sama seluruh pihak. Pemerintah daerah diharapkan segera menindaklanjuti setiap rekomendasi hasil monitoring, memastikan realisasi anggaran berjalan optimal, serta mempercepat pemulihan infrastruktur dan pelayanan publik agar manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat terdampak.”

Jawa Barat

Kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan tidak secara otomatis menghilangkan hak masyarakat untuk menerima bantuan sosial. Pekerja informal, termasuk peserta mandiri dan pekerja dengan upah di bawah UMK, tetap berhak mendapatkan bansos sepanjang memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan pemerintah. Karena itu, masyarakat tidak perlu khawatir untuk mendapatkan perlindungan jaminan sosial ketenagakerjaan.”