NEWS BIDIK , ACEH Jajaran LSM GMBI wilayah Aceh menyampaikan apresiasi atas perhatian pemerintah pusat terhadap masyarakat terdampak banjir di Aceh menjelang datangnya bulan suci Ramadan. Perhatian tersebut dinilai memberi dampak nyata bagi masyarakat, khususnya dalam menjaga keberlangsungan tradisi Meugang sebagai bagian penting dari kehidupan sosial dan keagamaan warga.Senen, (15/2/2026)
Banjir yang melanda sejumlah wilayah Aceh pada akhir tahun 2025 meninggalkan dampak signifikan bagi masyarakat, mulai dari kerusakan infrastruktur hingga terganggunya aktivitas ekonomi warga. Di tengah kondisi tersebut, bantuan yang memungkinkan masyarakat tetap menjalankan tradisi Meugang menjadi bentuk pemulihan moral sekaligus sosial bagi masyarakat setempat.
Tradisi Meugang sendiri merupakan warisan budaya masyarakat Aceh yang sudah berlangsung sejak masa Kesultanan Aceh. Tradisi ini dilakukan dengan menyembelih hewan seperti sapi atau kerbau, kemudian dagingnya dimasak dan dinikmati bersama keluarga maupun dibagikan kepada masyarakat yang membutuhkan. Biasanya, Meugang dilaksanakan satu hingga dua hari sebelum Ramadan, Idul Fitri, maupun Idul Adha.
Ketua Wilter LSM GMBI Aceh, Zulfikar ZA, menjelaskan bahwa Meugang bukan sekadar tradisi kuliner, tetapi memiliki nilai religius dan sosial yang kuat. Menurutnya, dalam dimensi agama dan budaya, Meugang dianggap sebagai bagian dari syiar Islam yang melekat dengan perayaan hari besar keagamaan di Aceh. Bahkan, sebagian masyarakat menilai ibadah puasa terasa kurang lengkap tanpa melaksanakan tradisi tersebut.
Ia juga menambahkan bahwa pada masa Kesultanan Aceh, para sultan menyembelih hewan dalam jumlah besar dan membagikannya secara gratis kepada rakyat sebagai simbol kemakmuran dan kepedulian terhadap kesejahteraan masyarakat. Nilai tersebut masih terasa hingga saat ini, di mana Meugang menjadi momentum mempererat silaturahmi serta memperkuat rasa kebersamaan antarwarga.
Secara nasional, perhatian terhadap daerah terdampak bencana juga menjadi bagian dari komitmen pemerintah dalam menjaga stabilitas sosial masyarakat di berbagai wilayah Indonesia. Dukungan terhadap pelestarian tradisi lokal seperti Meugang dinilai penting, karena selain menjaga identitas budaya, juga berperan dalam pemulihan psikologis masyarakat pascabencana.
Dengan tetap terlaksananya tradisi Meugang di tengah tantangan pascabencana, masyarakat Aceh menunjukkan ketahanan budaya dan solidaritas sosial yang kuat. Tradisi ini tidak hanya menjadi simbol syukur menyambut Ramadan, tetapi juga menjadi pengingat pentingnya kebersamaan dan kepedulian antar sesama dalam menghadapi masa sulit.




















