Scroll untuk baca berita
HeadlineJawa BaratNEWSBIDIK KAB -CIREBON

Warga Miskin di Waled Desa Keluhkan Sulitnya Akses Mobil Desa untuk Berobat

2969
×

Warga Miskin di Waled Desa Keluhkan Sulitnya Akses Mobil Desa untuk Berobat

Sebarkan artikel ini

NEWSBIDIK CIREBON Seorang warga Desa Waled Desa, Kecamatan Waled, Kabupaten Cirebon, bernama Mulyana mengeluhkan sulitnya mendapatkan akses mobil desa untuk keperluan berobat. Kondisi ekonomi yang serba kekurangan membuatnya sangat bergantung pada fasilitas desa, namun kenyataan yang dihadapi justru sebaliknya, sampai harus mencari donasi kesana sini dibantu anaknya yang masih duduk di SMP. Minggu, (22/3/2026)

Menurut pengakuan Mulyana, setiap kali hendak berobat, dirinya harus berjuang keras untuk mendapatkan izin penggunaan mobil desa. Ia mengaku telah berulang kali mencoba menghubungi Kuwu (Kepala Desa) Waled, Dedi, melalui telepon maupun pesan WhatsApp, namun tidak mendapat respons/tidak ada balasan.

“Sudah berkali-kali saya hubungi, tapi tidak pernah dibalas. Padahal saya sangat butuh untuk berobat,” ujar Mulyana dengan nada kecewa.

Akibat sulitnya akses tersebut, Mulyana terpaksa menggunakan jasa transportasi online dengan biaya yang tidak sedikit, berkisar antara Rp200 ribu hingga Rp400 ribu sekali perjalanan berobat. Biaya tersebut tentu sangat memberatkan bagi dirinya yang hidup dalam kondisi ekonomi terbatas rumah saja masih ngontrak.

Apalagi harus berobat hampir seminggu Empat kali.

Ironisnya, ketika sesekali permintaan penggunaan mobil desa dikabulkan, Mulyana mengaku mendapatkan perlakuan yang kurang manusiawi. Ia mengatakan sering diingatkan agar tidak menggunakan mobil terlalu lama dengan alasan akan dipakai pihak lain.

“Kalaupun dikasih, selalu dibilang jangan lama-lama karena mau dipakai Bendahara/perangkat desa lainnya hal ini disampaikan oleh Kadus Cecep, Padahal itu mobil desa dari anggaran APBDes, harusnya untuk kepentingan masyarakat,” tambahnya.

Mulyana berharap adanya perhatian dari pemerintah, khususnya Gubernur Jawa Barat bapak Dedi Mulyadi agar dapat membantu proses pengobatannya sekaligus menindaklanjuti persoalan pelayanan publik di desanya.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Biro (Kabiro) Cirebon, Dedi Satriadi, menyampaikan keprihatinannya atas kondisi yang dialami warga tersebut. Ia menegaskan bahwa fasilitas desa, termasuk mobil desa yang bersumber dari anggaran APBDes, seharusnya diprioritaskan untuk kepentingan masyarakat, terutama dalam kondisi darurat seperti kebutuhan berobat.

“Ini menjadi perhatian serius. Fasilitas desa bukan milik pribadi, melainkan untuk kepentingan warga. Kami akan mencoba menelusuri dan mengonfirmasi langsung kepada pihak terkait agar persoalan ini bisa segera ditangani,” tegas Dedi Satriadi.

Pihaknya juga mendorong adanya transparansi dan pelayanan yang lebih humanis dari pemerintah desa kepada masyarakat, khususnya bagi warga kurang mampu yang sangat membutuhkan bantuan.

Kasus ini diharapkan menjadi perhatian bagi pemerintah daerah agar pelayanan publik di tingkat desa benar-benar berjalan sesuai dengan fungsi dan tujuan yang semestinya.

 

Tinggalkan Balasan

Jawa Barat

KIM-PG Kabupaten Bekasi hingga kini belum menentukan sikap resmi terkait dukungan calon ketua Partai Golkar. Namun Ketua KIM-PG, Efendi Subandono, secara pribadi menyatakan dukungannya kepada H. Akhmad Marjuki SH MH sebagai figur yang dinilai paling layak memimpin Golkar Kabupaten Bekasi. Meski demikian, keputusan final menunggu struktur DPD Golkar Jawa Barat resmi dilantik pasca Musda XI.”

Aceh

“LSM GMBI Aceh mendesak audit menyeluruh dana kebencanaan Kota Langsa setelah ditemukan dugaan ketidaksesuaian data penerima bantuan. Transparansi dan akuntabilitas dinilai lemah, sehingga berpotensi mencederai keadilan bagi korban banjir. Audit independen dianggap penting untuk memastikan setiap rupiah digunakan tepat sasaran dan dapat dipertanggungjawabkan kepada publik

Daerah

“Polres Bogor membongkar jaringan pengoplosan LPG bersubsidi yang beroperasi di dua lokasi berbeda, menyebabkan kerugian negara mencapai Rp13,2 miliar per bulan. Dari penggerebekan di Sukaraja dan Cileungsi, polisi mengamankan 793 tabung gas berbagai ukuran serta 76 alat suntik. Para pelaku diketahui meraup keuntungan hingga Rp1,3 miliar per hari dengan memindahkan isi gas 3 kilogram subsidi ke tabung 12 kilogram non-subsidi. Kapolres Bogor menegaskan bahwa praktik ini tidak hanya merugikan negara, tetapi juga mencuri hak masyarakat kecil yang berhak menerima subsidi.”

Headline

“Penggerebekan gudang pengoplosan LPG di Cileungsi membuka fakta mengejutkan: praktik ilegal yang berjalan sejak 2025 ini mampu meraup keuntungan hingga Rp13 miliar per bulan. Selain merugikan negara, aktivitas pemindahan gas bersubsidi ke tabung non-subsidi ini dinilai sangat membahayakan keselamatan warga karena dilakukan tanpa standar keamanan. Polisi menegaskan, para pelaku dijerat UU Migas dan pasal pidana umum terkait perbuatan curang serta peredaran barang tidak sesuai standar.”