Scroll untuk baca berita
Jawa BaratPrestasi

Dari Lahan Terbengkalai Menjadi Lumbung Pangan, Paguyuban Petani Wanajaya Bangkitkan Ketahanan Pangan Lokal

9686
×

Dari Lahan Terbengkalai Menjadi Lumbung Pangan, Paguyuban Petani Wanajaya Bangkitkan Ketahanan Pangan Lokal

Sebarkan artikel ini

NEWSBIDIK | Bekasi , Upaya pemberdayaan masyarakat berbasis pertanian di Kabupaten Bekasi kembali menunjukkan hasil nyata. Paguyuban Pemberdayaan Warga Masyarakat Petani dan Peternak Tanggul Rawa Lele, Desa Wanajaya, Kecamatan Cibitung, berhasil menyulap lahan tidur di sepanjang tanggul Kali Cikarang Bekasi Laut (CBL) menjadi kawasan pertanian produktif sekaligus lumbung pangan lokal. Rabu, (24/12/2025).

Paguyuban yang dirintis sejak 2018 ini lahir dari keresahan para petani setempat akibat semakin menyempitnya lahan pertanian, seiring pesatnya perkembangan kawasan industri di wilayah Cikarang dan sekitarnya. Kondisi tersebut mendorong warga untuk mencari alternatif lahan yang dapat dimanfaatkan demi mempertahankan sumber penghidupan mereka.

Lahan di sepanjang tanggul Kali CBL yang sebelumnya terbengkalai, dipenuhi semak belukar dan pepohonan liar, awalnya dianggap tidak memiliki nilai ekonomi serta rawan menjadi sarang hama. Namun, sekelompok warga Desa Wanajaya justru melihat potensi besar di balik kondisi tersebut. Berbekal semangat gotong royong, mereka menggagas pemanfaatan lahan tanggul sebagai area pertanian produktif.

Gagasan tersebut mendapat sambutan luas dari masyarakat. Para petani kemudian membentuk wadah resmi bernama Paguyuban Petani Wanajaya, yang berfungsi sebagai forum koordinasi, pengelolaan lahan, serta penguatan kapasitas anggota. Sejak itu, pengolahan lahan dilakukan secara swadaya, dimulai dari pembersihan semak belukar yang telah menjulang setinggi orang dewasa hingga pembentukan bedengan-bedengan siap tanam.

Keterbatasan air menjadi salah satu tantangan utama. Meski berada di dekat aliran Kali CBL, para petani tetap harus berhadapan dengan risiko kekeringan musiman. Untuk mengatasinya, paguyuban menerapkan sistem irigasi sederhana yang disesuaikan dengan kondisi lapangan. Upaya tersebut membuahkan hasil. Perlahan namun pasti, lahan gersang berubah menjadi hamparan hijau yang ditanami berbagai komoditas, mulai dari sayuran, palawija, hingga tanaman pangan lainnya.

Tak hanya fokus pada produksi, Paguyuban Petani Wanajaya juga berperan sebagai motor penggerak edukasi dan pemberdayaan. Para anggota saling berbagi pengetahuan mengenai teknik pertanian yang efisien dan ramah lingkungan. Hasil panen dikelola serta dipasarkan secara kolektif guna menjaga stabilitas harga dan memastikan keuntungan yang adil bagi seluruh anggota.

Keberadaan lahan pertanian ini tidak hanya memperkuat kemandirian pangan warga, tetapi juga berkontribusi dalam memenuhi kebutuhan pasar lokal di wilayah Cikarang. Hingga kini, Paguyuban Petani Wanajaya menjadi simbol keberhasilan ketahanan pangan berbasis masyarakat di tengah tekanan alih fungsi lahan.

Paguyuban Pemberdayaan Warga Masyarakat Petani dan Peternak Tanggul Rawa Lele berlokasi di Kampung Rawa Lele RT 02 RW 06, Desa Wanajaya, Kecamatan Cibitung, Kabupaten Bekasi. Paguyuban ini memiliki visi menjadi komunitas kolektif yang memberdayakan warga melalui program berbasis potensi sumber daya lokal.

Dalam misinya, paguyuban menekankan penguatan solidaritas lintas pemangku kepentingan, pendampingan kelompok sasaran seperti petani, peternak, pembudidaya air tawar, pelaku UMK, serta pemberdayaan perempuan dan ibu rumah tangga. Selain itu, paguyuban aktif membangun kemitraan dengan Pemerintah Desa, Perum Jasa Tirta (PJT) II, badan usaha, dan pihak swasta untuk mendukung pembangunan daerah.

Sejumlah program kerja juga dijalankan, di antaranya pengelolaan sampah berbasis prinsip Reduce, Reuse, dan Recycle (R3), pengembangan kemitraan pemasaran dan pembiayaan mikro, serta pembentukan forum edukasi dan advokasi lingkungan.

Keberhasilan Paguyuban Petani Wanajaya menjadi bukti bahwa dengan inovasi, kerja keras, dan solidaritas masyarakat, lahan terbengkalai dapat disulap menjadi sumber kehidupan yang produktif dan berkelanjutan, sekaligus menjadi warisan hijau bagi generasi mendatang.

Tinggalkan Balasan

DPRD KAB PANGANDARAN

Rapat Paripurna DPRD Kabupaten Pangandaran pada 1 Oktober 2025 menjadi momentum penting dalam pembahasan Perubahan APBD 2025 serta penguatan regulasi daerah melalui empat Raperda inisiatif. Ketua DPRD Asep Noordin menegaskan komitmen lembaga legislatif untuk menuntaskan seluruh agenda pembahasan demi mendukung kebutuhan pembangunan dan pelayanan publik di Kabupaten Pangandaran.”