Scroll untuk baca berita
DaerahKalimantan BaratNasional

Prabowo Lepas Ekspor Perdana 1.200 Ton Jagung ke Malaysia: Langkah Awal Menuju Lumbung Pangan Dunia

483
×

Prabowo Lepas Ekspor Perdana 1.200 Ton Jagung ke Malaysia: Langkah Awal Menuju Lumbung Pangan Dunia

Sebarkan artikel ini

NEWS-BIDIK,//Bengkayang, Kalimantan Barat – Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, secara resmi melepas ekspor perdana jagung sebanyak 1.200 ton ke Malaysia pada Kamis (5/6/2025). Pengiriman jagung dari Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat, ke Kuching, Malaysia, ini menjadi penanda penting dalam upaya Indonesia memperkuat kemandirian pangan dan memperluas pasar pertanian ke tingkat internasional.

Dalam sambutannya, Presiden Prabowo menyambut baik pelepasan ekspor ini dan menyebutnya sebagai momentum awal menuju cita-cita besar menjadikan Indonesia sebagai lumbung pangan dunia.

“Hari ini kita lepas ekspor perdana ke negeri tetangga, ini momentum besar. Ke depan, kita akan dorong penguatan koperasi desa, membangun 80 ribu koperasi di seluruh Indonesia, yang akan memperluas jaringan dan membentuk rantai produksi serta suplai yang lebih kuat dan berkelanjutan,” ujar Presiden Prabowo.

Presiden juga menegaskan bahwa kebijakan ini berorientasi pada kesejahteraan rakyat, dengan tujuan utama menyediakan pangan yang terjangkau dan bergizi bagi seluruh lapisan masyarakat.

“Harga pangan harus terjangkau oleh rakyat. Nilai tukar petani dan nelayan harus naik. Rakyat harus makan dengan baik, dengan protein yang cukup. Insyaallah, kita wujudkan masyarakat adil dan makmur, gemah ripah loh jinawi,” tambahnya.

Pelepasan ekspor ini turut dibarengi dengan peresmian gudang dryer jagung milik PT Pangan Merah Putih serta seremoni groundbreaking pembangunan 18 gudang Polri di 12 provinsi.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, dalam keterangannya, mengungkapkan bahwa ekspor ke Malaysia kali ini merupakan bagian dari permintaan rutin sebesar 240 ribu ton per tahun, dengan pengiriman awal sebanyak 20 ribu ton per bulan.

“Tahap pertama ini kita lepas dari tiga daerah: 1.200 ton dari Kalimantan Barat, 20 ribu ton dari Nusa Tenggara Barat, dan 27 ribu ton dari Gorontalo. Jadi total hampir 50 ribu ton kita ekspor bulan ini,” jelas Amran.

Ia juga menekankan bahwa ekspor dari Kabupaten Bengkayang ini merupakan yang pertama dalam sejarah daerah tersebut, dan menjadi simbol kolaborasi lintas sektor yang digerakkan oleh visi besar Presiden Prabowo.

“Ini buah kerja bersama, kolaborasi besar. Stok beras kita sekarang tertinggi dalam 50 tahun, mencapai 4 juta ton. Artinya, ketahanan pangan kita makin kuat. Insyaallah, mimpi Indonesia menjadi lumbung pangan dunia akan terwujud,” pungkasnya.

Ekspor ini menjadi langkah strategis Indonesia dalam memperkuat posisi sebagai pemain utama dalam sektor pertanian global, sekaligus menunjukkan kemajuan nyata dalam membangun sistem pangan nasional yang tangguh dan berkelanjutan.

(BPMI Setpres)

Tinggalkan Balasan

Aceh

Kasus ini menjadi perhatian masyarakat setelah dua warga Kubang Gajah diwajibkan melapor ke Polsek Kuala Pesisir usai dilaporkan PT Socfindo Seunagan atas dugaan pengambilan berondolan sawit kering. Warga mempertanyakan penerapan asas keadilan karena berondolan yang dipersoalkan disebut merupakan sisa panen yang telah lama tertinggal di lokasi pembuangan janjang kosong (jangkos), sementara pihak perusahaan hingga kini belum memberikan keterangan resmi.”

Daerah

“Final Camat Cup 2026 di Alun-alun Malangbong berlangsung meriah dengan antusiasme ratusan penonton. Plt Camat Malangbong mengajak masyarakat menjaga sportivitas dan ketertiban, sementara KOK Malangbong mengapresiasi kerja keras panitia yang telah menyukseskan turnamen bola voli antar desa sebagai ajang pembinaan atlet sekaligus mempererat persatuan masyarakat.”

Aceh

“Dugaan aktivitas illegal logging di kawasan hutan lindung Beutong Ateuh, Kabupaten Nagan Raya, kembali menjadi sorotan publik. Masyarakat mendesak aparat penegak hukum, KPH Wilayah IV, dan Satgas PKH bertindak tegas, transparan, serta mengusut tuntas apabila ditemukan indikasi keterlibatan pihak-pihak yang melindungi praktik pembalakan liar tersebut. Penegakan hukum tanpa pandang bulu dinilai menjadi kunci menyelamatkan hutan Aceh dari kerusakan yang semakin meluas.”