Scroll untuk baca berita
AcehDaerahNEWS-BIDIK NAGANRAYA

Diduga Illegal Logging di Hutan Ujong Lamie Nagan Raya Kebal Hukum, APH dan KPH Aceh Diminta Bertindak Tegas

3301
×

Diduga Illegal Logging di Hutan Ujong Lamie Nagan Raya Kebal Hukum, APH dan KPH Aceh Diminta Bertindak Tegas

Sebarkan artikel ini

NEWS BIDIK, Nagan Raya – Dugaan praktik pembalakan liar (illegal logging) di kawasan Hutan Ujong Lamie, Kecamatan Darul Makmur, Kabupaten Nagan Raya, Provinsi Aceh, kian meresahkan masyarakat. Aktivitas penebangan kayu yang diduga tanpa izin resmi disebut telah berlangsung selama berbulan-bulan dan hingga kini belum tersentuh proses penegakan hukum. Selasa, (24/2/2026)

Berdasarkan informasi yang dihimpun, para pelaku diduga melakukan penebangan, pengangkutan, hingga distribusi kayu tanpa mengantongi izin sah, termasuk Hak Pengusahaan Lahan (HPL) maupun dokumen perizinan kehutanan lainnya. Kegiatan tersebut dilakukan secara terang-terangan dan terkesan leluasa, sehingga memunculkan pertanyaan publik terkait pengawasan dan penindakan oleh aparat penegak hukum (APH).

Secara regulasi, tindakan pembalakan liar jelas melanggar ketentuan perundang-undangan. Dalam Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan, Pasal 12 huruf b dan huruf c melarang setiap orang melakukan penebangan pohon dalam kawasan hutan tanpa izin yang sah atau tidak sesuai dengan izin yang diberikan. Sementara Pasal 82 ayat (1) menyebutkan bahwa pelaku dapat dipidana penjara paling singkat 1 tahun dan paling lama 5 tahun serta denda paling sedikit Rp500 juta hingga Rp2,5 miliar. Jika melibatkan korporasi atau dilakukan secara terorganisir, ancaman pidana dapat lebih berat.

Selain itu, perbuatan tersebut juga berpotensi melanggar Pasal 50 ayat (3) huruf e Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan yang melarang setiap orang menebang pohon atau memungut hasil hutan di dalam kawasan hutan tanpa hak atau izin dari pejabat yang berwenang.

Dampak dari aktivitas ilegal ini bukan sekadar kerugian negara dari sisi penerimaan hasil hutan, tetapi juga ancaman serius terhadap lingkungan dan keselamatan masyarakat. Deforestasi yang tidak terkendali berpotensi memicu erosi, tanah longsor, hingga banjir bandang. Masyarakat menilai kerusakan hutan akan berdampak langsung pada sumber mata pencaharian serta keseimbangan ekosistem di wilayah tersebut.

Lebih jauh, beredarnya dugaan adanya pembiaran bahkan keterlibatan oknum tertentu dalam praktik ini menambah kecurigaan publik. Jika benar terjadi, maka hal tersebut tidak hanya mencoreng integritas penegakan hukum, tetapi juga berpotensi melanggar ketentuan pidana terkait penyalahgunaan wewenang.

Masyarakat mendesak APH serta Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Wilayah IV Provinsi Aceh segera turun tangan melakukan investigasi menyeluruh. Penindakan tegas, transparan, dan akuntabel dinilai penting untuk memastikan tidak ada pihak yang kebal hukum dalam kasus dugaan pembalakan liar di Hutan Ujong Lamie.

Respon (1)

Tinggalkan Balasan

Aceh

“Dugaan aktivitas warga negara asing di kawasan hutan Aceh harus ditelusuri secara serius melalui pemeriksaan faktual dan koordinasi lintas instansi. Jika terbukti terdapat pelanggaran keimigrasian, pertambangan, kehutanan, atau lingkungan hidup, penegakan hukum harus dilakukan secara tegas, profesional, dan tanpa pandang bulu sesuai ketentuan perundang-undangan. Namun, seluruh proses tetap harus menjunjung asas praduga tak bersalah serta mengedepankan transparansi kepada masyarakat.”

Aceh

Transparansi pembangunan jembatan Alue Siron–Alue Bata di Kecamatan Tadu Raya, Kabupaten Nagan Raya, perlu mendapat perhatian serius. Masyarakat berhak mengetahui status pekerjaan, sumber anggaran, serta pihak yang bertanggung jawab. Instansi terkait diharapkan memberikan klarifikasi agar tidak menimbulkan spekulasi dan memastikan pembangunan infrastruktur berjalan secara transparan serta dapat dipertanggungjawabkan.”

Daerah

“Percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana hidrometeorologi di Nagan Raya membutuhkan sinergi, komitmen, dan kerja sama seluruh pihak. Pemerintah daerah diharapkan segera menindaklanjuti setiap rekomendasi hasil monitoring, memastikan realisasi anggaran berjalan optimal, serta mempercepat pemulihan infrastruktur dan pelayanan publik agar manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat terdampak.”

Aceh

“Monitoring dan evaluasi kesiapan gerai Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) di Kabupaten Pidie menjadi langkah penting untuk memastikan pembangunan yang telah dilaksanakan dapat segera ditindaklanjuti dengan pemenuhan sarana dan prasarana. Pemerintah daerah berharap sinergi antara pemerintah pusat, provinsi, dan kabupaten mampu mempercepat operasionalisasi koperasi sebagai penggerak ekonomi gampong, memperkuat kemandirian masyarakat, serta menghadirkan manfaat nyata bagi perekonomian desa.”