Scroll untuk baca berita
Jawa BaratReligiSejarah

Ngaji, Wujud Syukur Hamba atas Nikmat Ilmu dari Allah SWT

432
×

Ngaji, Wujud Syukur Hamba atas Nikmat Ilmu dari Allah SWT

Sebarkan artikel ini

Oleh:  KH.MuhammadRosyid.Masyhudi,S.Ss

Khodimul Ma’had Bahrurrohmah Alhidayah 3, Cikawung Terisi, Indramayu. Jum’at. pahing, (12/9/25).

NEWS BIDIK, RELIGI INDRAMAYU,JAWA BARAT. Tidak ada seorang pun manusia yang lahir ke dunia langsung menjadi orang alim, faqih, atau shufi. Setiap bayi terlahir tanpa ilmu, kemudian tumbuh dan berkembang melalui proses belajar. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam syair yang masyhur di kalangan santri:

تعلم فليس المرء يولد عالما # وليس أخو علم كمن هو جاهل

“Belajarlah! Karena tidak ada seorang pun yang terlahir dalam keadaan alim (berilmu). Dan orang berilmu jelas tidak sama dengan orang yang bodoh.”

Dari syair tersebut tergambar jelas bahwa ngaji atau belajar merupakan kewajiban dan kebutuhan mendasar manusia. Ia menjadi jalan panjang yang menghubungkan antara kelahiran seorang jabang bayi dengan derajat alim, faqih, ataupun shufi.

Proses ini tidak instan. Ia memerlukan perjuangan, pengorbanan, serta kesungguhan hati. Sedikit demi sedikit, huruf demi huruf, kalimat demi kalimat, seorang penuntut ilmu menapaki perjalanan panjang untuk memahami khazanah keilmuan sekaligus melatih akal agar sistematis dan logis.

Ulama-ulama terdahulu kerap mengingatkan bahwa ngaji merupakan bentuk syukur seorang hamba atas nikmat akal yang Allah SWT anugerahkan. Ilmu bukan hanya alat untuk memahami kehidupan, tetapi juga jalan menuju ridha-Nya. Dengan ngaji, seseorang berupaya menghilangkan kebodohan (izalah al-jahli) dan menyingkirkan gelapnya pikiran (zhulumat al-fikr).

Kebodohan sendiri disebut sebagai salah satu pintu besar menuju kemaksiatan. Sebagaimana ungkapan ulama:

ما عصي الله بشيء أعظم من الجهل

“Tidaklah Allah didurhakai dengan sesuatu yang lebih besar daripada kebodohan.”

Ilmu ibarat cahaya (nur) yang menerangi batin. Ia menenangkan hati, melapangkan dada, serta menghindarkan manusia dari jebakan hawa nafsu dan tipu daya setan. Sebaliknya, kebodohan menjerumuskan jiwa pada kegelapan batin yang bisa berakhir pada api neraka.

Ada pepatah mengatakan: “Bodoh itu sempit, sedangkan ilmu itu luas.” Orang yang bodoh mudah gelisah, bingung, dan tersesat dalam kesusahan diri. Sementara orang berilmu memiliki jiwa besar, pandangan luas, dan tidak mudah diperdaya oleh godaan dunia.

Maka, masihkah kita enggan untuk mengaji?

Tinggalkan Balasan

Jawa Barat

“Dugaan pungutan liar di kawasan Jembatan Timbang Tolongas, Sumedang, menjadi perhatian serius karena sejumlah truk bermuatan terlihat melanjutkan perjalanan tanpa masuk ke area penimbangan setelah diduga terjadi transaksi. Namun, dugaan tersebut masih memerlukan klarifikasi dan pembuktian dari pihak pengelola UPKB serta instansi terkait. Transparansi pemeriksaan dan penegakan aturan diperlukan untuk memastikan pelayanan berjalan sesuai ketentuan.”

Headline

Wartawan Bekasi Raya menyatukan barisan dan akan menggelar aksi damai di Kantor Bupati Bekasi untuk menyuarakan pentingnya penghormatan terhadap kemerdekaan pers serta perlindungan terhadap kerja jurnalistik. Aksi tersebut juga mendesak Pemkab Bekasi melakukan pemeriksaan objektif terkait dugaan perlakuan tidak patut terhadap seorang wartawan saat menjalankan tugas konfirmasi.

Jawa Barat

Kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan tidak secara otomatis menghilangkan hak masyarakat untuk menerima bantuan sosial. Pekerja informal, termasuk peserta mandiri dan pekerja dengan upah di bawah UMK, tetap berhak mendapatkan bansos sepanjang memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan pemerintah. Karena itu, masyarakat tidak perlu khawatir untuk mendapatkan perlindungan jaminan sosial ketenagakerjaan.”