Oleh: KH.MuhammadRosyid.Masyhudi,S.Ss
Khodimul Ma’had Bahrurrohmah Alhidayah 3, Cikawung Terisi, Indramayu. Jum’at. pahing, (12/9/25).
NEWS BIDIK, RELIGI INDRAMAYU,JAWA BARAT. Tidak ada seorang pun manusia yang lahir ke dunia langsung menjadi orang alim, faqih, atau shufi. Setiap bayi terlahir tanpa ilmu, kemudian tumbuh dan berkembang melalui proses belajar. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam syair yang masyhur di kalangan santri:
تعلم فليس المرء يولد عالما # وليس أخو علم كمن هو جاهل
“Belajarlah! Karena tidak ada seorang pun yang terlahir dalam keadaan alim (berilmu). Dan orang berilmu jelas tidak sama dengan orang yang bodoh.”
Dari syair tersebut tergambar jelas bahwa ngaji atau belajar merupakan kewajiban dan kebutuhan mendasar manusia. Ia menjadi jalan panjang yang menghubungkan antara kelahiran seorang jabang bayi dengan derajat alim, faqih, ataupun shufi.
Proses ini tidak instan. Ia memerlukan perjuangan, pengorbanan, serta kesungguhan hati. Sedikit demi sedikit, huruf demi huruf, kalimat demi kalimat, seorang penuntut ilmu menapaki perjalanan panjang untuk memahami khazanah keilmuan sekaligus melatih akal agar sistematis dan logis.
Ulama-ulama terdahulu kerap mengingatkan bahwa ngaji merupakan bentuk syukur seorang hamba atas nikmat akal yang Allah SWT anugerahkan. Ilmu bukan hanya alat untuk memahami kehidupan, tetapi juga jalan menuju ridha-Nya. Dengan ngaji, seseorang berupaya menghilangkan kebodohan (izalah al-jahli) dan menyingkirkan gelapnya pikiran (zhulumat al-fikr).
Kebodohan sendiri disebut sebagai salah satu pintu besar menuju kemaksiatan. Sebagaimana ungkapan ulama:
ما عصي الله بشيء أعظم من الجهل
“Tidaklah Allah didurhakai dengan sesuatu yang lebih besar daripada kebodohan.”
Ilmu ibarat cahaya (nur) yang menerangi batin. Ia menenangkan hati, melapangkan dada, serta menghindarkan manusia dari jebakan hawa nafsu dan tipu daya setan. Sebaliknya, kebodohan menjerumuskan jiwa pada kegelapan batin yang bisa berakhir pada api neraka.
Ada pepatah mengatakan: “Bodoh itu sempit, sedangkan ilmu itu luas.” Orang yang bodoh mudah gelisah, bingung, dan tersesat dalam kesusahan diri. Sementara orang berilmu memiliki jiwa besar, pandangan luas, dan tidak mudah diperdaya oleh godaan dunia.
Maka, masihkah kita enggan untuk mengaji?





















