Scroll untuk baca berita
NasionalReligiSejarah

Pangeran Jayakarta, Simbol Perlawanan Awal terhadap Kolonialisme di Jakarta

7569
×

Pangeran Jayakarta, Simbol Perlawanan Awal terhadap Kolonialisme di Jakarta

Sebarkan artikel ini

NEWSBIDIK.COM ,Jakarta — Pangeran Jayakarta tercatat dalam sejarah sebagai salah satu tokoh penting dalam perlawanan awal terhadap kolonialisme di Nusantara. Sebagai penguasa Jayakarta pada awal abad ke-17 sekaligus wakil Kesultanan Banten, ia memainkan peran sentral dalam mempertahankan kedaulatan wilayah yang kini dikenal sebagai Jakarta dari dominasi asing.

Jejak Religi dan Misteri Goa Cirengganis Pangandaran: Antara Speologi, Sejarah, dan Kisah Mistis

Pada masa kepemimpinannya, Jayakarta.yang sebelumnya dikenal sebagai Sunda Kelapa.merupakan pelabuhan strategis di pesisir utara Pulau Jawa. Kawasan ini menjadi pusat perdagangan internasional yang ramai, sehingga menarik perhatian bangsa-bangsa Eropa, termasuk Belanda melalui kongsi dagang Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC).

Awalnya, VOC menjalin hubungan dagang dengan penguasa setempat. Namun, seiring berjalannya waktu, VOC mulai menunjukkan ambisi politik dengan membangun benteng dan berupaya menguasai jalur perdagangan. Langkah tersebut ditentang keras oleh Pangeran Jayakarta karena dinilai mengancam kedaulatan wilayah Jayakarta.

Persahabatan Menentukan Jalan Hidup: Pesan Religius dari Gus Muhammad Rosyid Masyhudi

Ketegangan antara kedua pihak pun meningkat hingga berujung pada konflik terbuka. Pangeran Jayakarta memimpin perlawanan bersama pasukan dan rakyat setempat untuk mempertahankan Jayakarta dari pengaruh VOC. Meski perlawanan dilakukan dengan gigih, kekuatan VOC yang didukung persenjataan modern akhirnya berhasil menguasai Jayakarta pada 1619.

Setelah kemenangan VOC, kota Jayakarta dihancurkan dan dibangun kembali dengan nama Batavia. Kota ini kemudian berkembang menjadi pusat pemerintahan kolonial Belanda di Hindia Timur selama ratusan tahun.

R.M.P. Sosrokartono: Sang Jenius Nusantara, Pewarta Perang Dunia, dan Tabib Air Putih yang Dilupakan Sejarah

Meski harus menghadapi kekalahan, perjuangan Pangeran Jayakarta tetap dikenang sebagai simbol keberanian dan semangat anti-penjajahan. Nilai-nilai perjuangannya menjadi bagian penting dari sejarah Jakarta dan Indonesia dalam melawan dominasi asing.

Sunda dalam Perspektif Geografi: Lebih dari Sekadar Suku, Sebuah Peradaban Tua yang Menyatu

Hingga kini, nama Pangeran Jayakarta terus diabadikan melalui berbagai bentuk penghormatan, mulai dari penamaan jalan, institusi pendidikan, hingga catatan sejarah, sebagai pengingat akan perjuangannya dalam mempertahankan kedaulatan bangsa.

Jumat klowon ,(19/12/2025)

Tinggalkan Balasan

Headline

“Sat Resnarkoba Polres Nagan Raya berhasil mengungkap peredaran gelap narkotika jenis sabu dengan mengamankan seorang pengedar beserta 114 paket sabu seberat total 114,89 gram. Penangkapan ini berawal dari informasi masyarakat dan menjadi bagian dari komitmen kepolisian dalam memberantas narkoba hingga ke akar jaringannya,” ujar Kasat Resnarkoba Polres Nagan Raya AKP Very Syahputra, S.H., M.H.

Aceh

Polri, khususnya Polres Nagan Raya, berkomitmen mendukung penuh program swasembada pangan nasional. Kami siap bersinergi dengan pemerintah daerah, TNI, dan masyarakat dalam mengawal serta mendukung program pertanian, khususnya komoditas jagung, sebagai upaya memperkuat ketahanan pangan dan meningkatkan kesejahteraan petani,” ujar Wakapolres Nagan Raya Kompol Humaniora Sembiring, S.Kom., S.I.K.

Aceh

“Kesigapan warga bersama aparat kepolisian berhasil menyelamatkan nyawa seorang bocah 11 tahun yang diserang ular phyton di kawasan rawa Desa Suak Puntong, Kecamatan Kuala Pesisir, Kabupaten Nagan Raya. Peristiwa ini menjadi pengingat pentingnya kewaspadaan masyarakat terhadap potensi bahaya satwa liar di lingkungan sekitar permukiman,” ujar Kapolsek Kuala Pesisir IPDA Ghozi Al Falah, S.Tr.K.

Aceh

“Pemerintah Kabupaten Nagan Raya mengusulkan pembangunan 609 unit hunian sementara bagi warga terdampak bencana hidrometeorologi di Kecamatan Beutong Ateuh Banggalang. Kami berharap pembangunan ini dapat segera direalisasikan, mengingat para pengungsi akan menghadapi bulan suci Ramadan,” ujar Bupati Nagan Raya, Dr. TR. Keumangan, S.H., M.H.

Jawa Tengah

Dugaan pungutan liar dalam pelaksanaan Program PTSL di Desa Kawengen semakin menguat setelah ratusan warga mengaku dipungut biaya Rp500.000 per bidang tanah, jauh di atas ketentuan resmi. Meski Kepala Desa Marjani berdalih biaya tersebut telah disepakati dan diketahui sejumlah pihak, warga menilai praktik ini sebagai bentuk penyalahgunaan wewenang yang harus segera ditindaklanjuti Aparat Penegak Hukum (APH). Media dan warga mendesak investigasi penuh untuk memastikan transparansi dan keadilan dalam program sertifikasi tanah tersebut.”