Scroll untuk baca berita
NasionalSejarah

Sunda dalam Perspektif Geografi: Lebih dari Sekadar Suku, Sebuah Peradaban Tua yang Menyatu

320
×

Sunda dalam Perspektif Geografi: Lebih dari Sekadar Suku, Sebuah Peradaban Tua yang Menyatu

Sebarkan artikel ini
Minggu, (7/9/2025). Dok. Ilustrator newsbidik.com/Browibowo

NEWS BIDIK –SEJARAH.Istilah Paparan Sunda mungkin masih melekat dalam ingatan banyak orang dari pelajaran geografi di sekolah. Istilah ini merujuk pada sebuah daratan purba yang pernah menyatukan wilayah luas di Asia Tenggara, jauh sebelum kepulauan Indonesia terbentuk seperti sekarang.

Daratan besar itu mencakup Sumatera, Semenanjung Malaysia, Thailand, Kamboja, Vietnam, Pulau Jawa, Kalimantan, hingga sebagian Filipina. Kawasan ini dikenal dengan nama Sundaland atau Great Sunda Islands (Kepulauan Sunda Besar). Namun, akibat aktivitas geologi masa lampau-seperti gempa bumi, letusan gunung, hingga naik-turunnya permukaan laut-daratan itu terpisah menjadi pulau-pulau seperti yang kita kenal sekarang.

Selain Sunda Besar, juga terdapat wilayah Sunda Kecil (Lesser Sunda Islands) yang meliputi Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT). Bahkan pada awal kemerdekaan, Indonesia pernah memiliki provinsi bernama Provinsi Sunda Kecil dengan ibu kota di Singaraja, Bali.

Hingga kini, dalam literatur dan peta internasional seperti Google Maps, istilah Greater Sunda Islands dan Lesser Sunda Islands masih dipakai untuk merujuk pada kawasan geografis tersebut.

Sunda Bukan Sekadar Suku

Bagi sebagian masyarakat Sunda, pengetahuan ini memperluas makna “Sunda”. Sunda bukan hanya nama etnis, melainkan juga filosofi tua yang meliputi wilayah luas sebagaimana peta masa lalu. Dalam pandangan itu, semua manusia adalah saudara dan bagian dari satu kesatuan besar.

Sejarah juga mencatat, Sunda tidak pernah dikenal sebagai kekuatan yang berambisi menyerang, menginvasi, atau menaklukkan suku lain. Karakter itu diwariskan hingga kini, ketika Jawa Barat—sebagai pusat utama masyarakat Sunda—menjadi rumah bagi berbagai etnis dari seluruh Nusantara.

Dengan jumlah penduduk terbesar di Indonesia, Jawa Barat kini berdiri sebagai provinsi yang terbuka. Ia bukan hanya tanah kelahiran orang Sunda, melainkan juga tempat ribuan orang dari berbagai suku datang untuk bersekolah, menuntut ilmu, bekerja, dan mencari kehidupan.

Minggu, (7/9/2025)

Tinggalkan Balasan

Headline

“Sat Resnarkoba Polres Nagan Raya berhasil mengungkap peredaran gelap narkotika jenis sabu dengan mengamankan seorang pengedar beserta 114 paket sabu seberat total 114,89 gram. Penangkapan ini berawal dari informasi masyarakat dan menjadi bagian dari komitmen kepolisian dalam memberantas narkoba hingga ke akar jaringannya,” ujar Kasat Resnarkoba Polres Nagan Raya AKP Very Syahputra, S.H., M.H.

Aceh

Polri, khususnya Polres Nagan Raya, berkomitmen mendukung penuh program swasembada pangan nasional. Kami siap bersinergi dengan pemerintah daerah, TNI, dan masyarakat dalam mengawal serta mendukung program pertanian, khususnya komoditas jagung, sebagai upaya memperkuat ketahanan pangan dan meningkatkan kesejahteraan petani,” ujar Wakapolres Nagan Raya Kompol Humaniora Sembiring, S.Kom., S.I.K.

Aceh

“Kesigapan warga bersama aparat kepolisian berhasil menyelamatkan nyawa seorang bocah 11 tahun yang diserang ular phyton di kawasan rawa Desa Suak Puntong, Kecamatan Kuala Pesisir, Kabupaten Nagan Raya. Peristiwa ini menjadi pengingat pentingnya kewaspadaan masyarakat terhadap potensi bahaya satwa liar di lingkungan sekitar permukiman,” ujar Kapolsek Kuala Pesisir IPDA Ghozi Al Falah, S.Tr.K.

Aceh

“Pemerintah Kabupaten Nagan Raya mengusulkan pembangunan 609 unit hunian sementara bagi warga terdampak bencana hidrometeorologi di Kecamatan Beutong Ateuh Banggalang. Kami berharap pembangunan ini dapat segera direalisasikan, mengingat para pengungsi akan menghadapi bulan suci Ramadan,” ujar Bupati Nagan Raya, Dr. TR. Keumangan, S.H., M.H.