Scroll untuk baca berita
JakartaNasional

Menjaga Soliditas Negara, Menguatkan Kepercayaan Rakyat

2835
×

Menjaga Soliditas Negara, Menguatkan Kepercayaan Rakyat

Sebarkan artikel ini

Salam Komando di Harkopnas 2026 Jadi Simbol Sinergi Antarlembaga Negara

Oleh: (Idang Prihantoro)

NEWSBIDIK,JAKARTA – Di tengah derasnya arus informasi dan meningkatnya ekspektasi masyarakat terhadap kinerja pemerintah, publik tidak hanya menilai negara dari kebijakan yang dihasilkan, tetapi juga dari kemampuan para pemimpin lembaga negara membangun koordinasi, menunjukkan kekompakan, serta menghadirkan keyakinan bahwa seluruh institusi bekerja dalam satu visi demi kepentingan bangsa.

 

Pesan tersebut mengemuka dalam puncak peringatan Hari Koperasi Nasional (Harkopnas) 2026 yang digelar di Indonesia Arena, Jakarta, Minggu (12/7/2026). Pada kesempatan itu, lima pimpinan lembaga negara tampak berdiri berdampingan dan melakukan salam komando, yakni Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo, Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto, Jaksa Agung ST Burhanuddin, Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan Jenderal (Purn.) Djamari Chaniago, serta Kepala Badan Intelijen Negara Jenderal (Purn.) Muhammad Herindra.

Momen tersebut menjadi perhatian publik karena dipandang sebagai simbol kebersamaan dan sinergi antarlembaga negara dalam mendukung stabilitas nasional serta keberhasilan agenda pembangunan.

Meski demikian, sebuah gestur ataupun dokumentasi tidak dapat dijadikan ukuran tunggal keberhasilan koordinasi antarlembaga. Dalam perspektif komunikasi publik, simbol memiliki makna penting karena mampu membangun optimisme masyarakat, selama diwujudkan melalui kerja nyata yang konsisten dan terukur.

Di era pemerintahan modern, tantangan bangsa semakin kompleks dan tidak dapat diselesaikan oleh satu institusi saja. Penegakan hukum membutuhkan dukungan intelijen yang akurat, stabilitas keamanan memerlukan koordinasi lintas kementerian dan pemerintah daerah, sementara pembangunan ekonomi membutuhkan kepastian hukum serta situasi yang aman dan kondusif.

Karena itu, sinergi antarlembaga bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan strategis dalam tata kelola pemerintahan.

Indonesia saat ini menghadapi berbagai tantangan secara bersamaan, mulai dari pemulihan ekonomi, transformasi industri, penguatan ketahanan pangan dan energi, peningkatan investasi, hingga ancaman kejahatan siber, korupsi, penyelundupan, peredaran narkotika, kejahatan lintas negara, serta potensi konflik sosial. Keseluruhan tantangan tersebut menuntut koordinasi yang terpadu dan respons yang cepat.

Dalam konteks itu, masyarakat membutuhkan negara yang hadir secara utuh, bukan institusi yang bekerja sendiri-sendiri dalam sekat birokrasi.

Peringatan Harkopnas 2026 juga menjadi momentum penting dimulainya operasional Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih, sebuah program strategis yang diharapkan mampu memperkuat ekonomi rakyat hingga tingkat desa. Implementasi program tersebut membutuhkan dukungan seluruh pemangku kepentingan, mulai dari kementerian teknis, pemerintah daerah, aparat keamanan, hingga aparat penegak hukum agar pelaksanaannya berjalan tertib, transparan, dan sesuai ketentuan.

Dalam konteks tersebut, salam komando yang ditunjukkan para pimpinan lembaga negara dipandang sebagai representasi komitmen bersama dalam mengawal agenda pembangunan nasional.

Namun demikian, masyarakat pada akhirnya akan menilai bukan dari simbol yang ditampilkan, melainkan dari hasil yang benar-benar dirasakan. Keamanan yang terjaga, pelayanan publik yang semakin baik, penegakan hukum yang adil, meningkatnya investasi, serta pembangunan yang berjalan tanpa hambatan merupakan indikator nyata keberhasilan sinergi tersebut.

Kepercayaan publik tumbuh melalui pengalaman. Ketika koordinasi antarlembaga mampu mempercepat penyelesaian persoalan masyarakat, maka legitimasi dan kepercayaan terhadap negara akan semakin kuat. Sebaliknya, apabila kebersamaan hanya berhenti pada seremoni tanpa diikuti implementasi yang nyata, maka makna simbol tersebut akan memudar.

Dalam kajian administrasi publik dikenal konsep whole-of-government, yaitu pendekatan yang menekankan kolaborasi lintas institusi dalam menyelesaikan persoalan yang kompleks. Pendekatan ini mengedepankan koordinasi berdasarkan tujuan bersama sehingga kebijakan dapat diterjemahkan secara efektif hingga ke daerah.

Prinsip tersebut juga relevan dalam menjaga stabilitas nasional. Ancaman keamanan saat ini tidak lagi terbatas pada aspek konvensional, tetapi mencakup disinformasi, perkembangan teknologi digital, kejahatan transnasional, hingga dinamika geopolitik global yang membutuhkan respons terpadu dari seluruh elemen negara.

Meski demikian, sinergi tidak berarti menghilangkan independensi masing-masing lembaga. Justru koordinasi yang kuat harus dibangun di atas penghormatan terhadap kewenangan, profesionalisme, serta mekanisme hukum yang berlaku. Dengan demikian, setiap institusi tetap menjalankan fungsi konstitusionalnya secara optimal sambil memperkuat kolaborasi lintas sektor.

Stabilitas nasional juga menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan ekonomi. Dunia usaha membutuhkan kepastian hukum, investor memerlukan rasa aman, dan masyarakat membutuhkan jaminan bahwa aktivitas ekonomi dapat berlangsung secara kondusif. Oleh sebab itu, koordinasi antara pemerintah, aparat keamanan, aparat penegak hukum, dan lembaga strategis lainnya memiliki kontribusi langsung terhadap iklim investasi nasional.

Pada akhirnya, masyarakat berharap semangat kebersamaan yang ditunjukkan dalam Harkopnas 2026 tidak berhenti sebagai simbol seremonial semata, melainkan diwujudkan dalam setiap kebijakan, koordinasi lintas sektor, dan penyelesaian berbagai persoalan bangsa.

Indonesia membutuhkan institusi yang kuat. Namun, lebih dari itu, Indonesia memerlukan institusi yang mampu bekerja secara terpadu, saling mendukung, dan bergerak dalam satu irama demi menjaga stabilitas nasional, menegakkan supremasi hukum, mempercepat pembangunan, serta memperkuat kepercayaan rakyat terhadap negara.

Salam komando pada peringatan Hari Koperasi Nasional 2026 menjadi pengingat bahwa keberhasilan pembangunan tidak ditentukan oleh kekuatan satu lembaga semata, melainkan oleh kemampuan seluruh institusi negara untuk bersinergi dalam mengawal kepentingan rakyat, menjaga persatuan, dan mewujudkan masa depan Indonesia yang lebih maju.

Baca Juga

Kepemimpinan Terpusat Presiden Perkuat Stabilitas Nasional dalam Penanganan Banjir Sumatera

Presiden Prabowo Saksikan Penyelamatan Rp11,42 Triliun dan Penguasaan Kembali Ratusan Ribu Hektare Lahan

Penulis: Idang PrihantoroEditor: Browibowo

Tinggalkan Balasan

Aceh

Pancasila tidak boleh berhenti sebagai hafalan yang diucapkan setiap peringatan 1 Juni. Nilai-nilainya harus hadir dalam tindakan nyata, mulai dari menghormati perbedaan, menjaga persatuan, hingga mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Masa depan bangsa tidak ditentukan oleh seberapa lantang kita menyebut Pancasila, tetapi oleh seberapa konsisten kita mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.”