Scroll untuk baca berita
AcehNEWS-BIDIK NAGANRAYA

Krisis Pertanian di Nagan Raya: Lumbung Padi Terancam Gagal Panen

1077
×

Krisis Pertanian di Nagan Raya: Lumbung Padi Terancam Gagal Panen

Sebarkan artikel ini

NEWS-BIDIK, NAGAN RAYA, ACEH  Kabupaten Nagan Raya, yang dulu dikenal sebagai lumbung padi nasional di wilayah barat selatan Aceh, kini menghadapi krisis pertanian serius. Produktivitas padi terus menurun dalam beberapa musim terakhir, dipicu oleh buruknya sistem irigasi, lemahnya fungsi penyuluhan pertanian, serta minimnya koordinasi lintas instansi.

Masalah yang terjadi bersifat sistemik dan saling berkaitan, mencerminkan lemahnya tata kelola sektor pertanian di daerah ini.Selasa, (5/8/2025).

Baca Juga 

Warga Difabel di Blang Bintang Terabaikan, Tiga Tahun Tak Tersentuh Bantuan Pemerintah

Sistem irigasi yang seharusnya menjadi tulang punggung produksi padi justru tidak mampu memenuhi kebutuhan pengairan. Balai Wilayah Sungai (BWS), yang berada di bawah kendali pemerintah pusat, dinilai tidak konsisten dalam mengatur distribusi air. Penutupan saluran irigasi tanpa pemberitahuan telah menyebabkan ribuan hektare sawah kekeringan saat musim tanam.

Ironisnya, lembaga terkait justru saling lempar tanggung jawab. Dinas teknis kabupaten, BWS pusat, dan otoritas provinsi belum menunjukkan kesatuan langkah dalam menangani krisis ini.

“Petani seperti dipermainkan. Setiap tahun kami tanam dalam kondisi tidak pasti. Air irigasi bisa datang, bisa juga tidak. Tidak ada jaminan,” keluh seorang petani di Kecamatan Kuala.

Kondisi petani makin diperparah dengan distribusi benih yang tidak merata dan tidak seragam. Hal ini menyebabkan hasil panen tidak konsisten bahkan dalam satu kawasan. Pemerintah daerah dinilai belum optimal dalam mendistribusikan varietas unggul secara adil.

Fungsi penyuluh pertanian, yang seharusnya menjadi pendamping teknis petani, nyaris tidak dirasakan. Banyak petani mengaku tidak lagi mendapat bimbingan, bahkan saat masa kritis penanaman dan panen.

“Kami butuh kehadiran negara di sawah, bukan hanya di rapat koordinasi,” sindir seorang tokoh tani lokal.

Berdasarkan data BPS, pada 2023 luas panen padi di Aceh mencapai 254.290 hektare dengan produksi sekitar 1,4 juta ton Gabah Kering Giling (GKG), menurun dibanding tahun-tahun sebelumnya. Kontribusi Nagan Raya hanya sekitar 7.000 hektare lahan sawah aktif, yang terus menyusut akibat ketergantungan pada hujan dan rusaknya irigasi.

Produktivitas rata-rata di kabupaten ini berkisar antara 6,2 hingga 6,5 ton per hektare—jauh di bawah rata-rata provinsi tetangga yang mampu mencapai 8 hingga 9 ton per hektare.

Krisis yang dihadapi bukan sekadar persoalan teknis, namun cerminan lemahnya koordinasi kelembagaan dan tidak efektifnya tata kelola pertanian. Reformasi menyeluruh diperlukan, mulai dari pengelolaan irigasi, pendistribusian benih unggul, hingga penguatan peran penyuluh lapangan.

Narasi ketahanan pangan nasional yang terus digaungkan tidak sejalan dengan kondisi nyata di lapangan. Petani Nagan Raya justru masih berkutat dengan krisis dasar yang tak kunjung selesai.

Baca Juga 

Presiden Prabowo Terima Kunjungan Jenderal AS di Istana, Bahas Penguatan Kerja Sama Pertahanan

Jika tak ada langkah konkret, Nagan Raya bukan hanya akan kehilangan produktivitas, tapi juga identitasnya sebagai lumbung pangan. Wilayah ini bisa terjebak menjadi kawasan marginal yang bergantung pada bantuan luar.

Pemerintah pusat dan daerah dituntut untuk bertindak tegas, melepaskan diri dari belenggu regulasi dan birokrasi yang menghambat. Diperlukan keberanian politik, sinergi kelembagaan, dan aksi nyata—bukan sekadar rapat dan janji.

Sebab sejatinya, ketahanan pangan lahir bukan dari pidato, tetapi dari sawah yang dialiri air, benih yang unggul, dan petani yang dihargai.

Tinggalkan Balasan

Aceh

“Turnamen Badminton Kapolres Cup VI bukan sekadar ajang kompetisi olahraga, tetapi menjadi momentum mempererat kebersamaan, memperkuat sinergi antara Polri dan masyarakat, serta membuka ruang lahirnya atlet-atlet berprestasi yang mampu mengharumkan nama Kabupaten Nagan Raya di masa depan,” ujar Kapolres Nagan Raya AKBP Dr. Benny Bathara, S.I.K., M.I.K. saat membuka turnamen dalam rangka Hari Bhayangkara ke-80 Tahun 2026. :::

Aceh

“Pemerintah Kabupaten Nagan Raya meminta pemerintah pusat mempercepat pembangunan 647 hunian tetap bagi korban banjir di Kecamatan Beutong Ateuh Banggalang. Selain hunian, percepatan pembangunan sekolah permanen dan pemulihan infrastruktur jembatan yang rusak juga menjadi prioritas agar masyarakat dapat kembali menjalani aktivitas secara normal.”

Aceh

“PT Sofindo Seunagan kembali menunjukkan komitmennya terhadap kesehatan dan keselamatan kerja dengan menggelar Medical Check Up (MCU) bagi seluruh karyawan dan buruh pekerja. Pemeriksaan kesehatan yang berlangsung selama 2-4 Juni 2026 ini menjadi langkah nyata perusahaan dalam memastikan kondisi kesehatan tenaga kerja tetap terjaga sekaligus mendukung terciptanya lingkungan kerja yang sehat, aman, produktif, dan bebas dari penyalahgunaan narkoba.”

Aceh

Pancasila tidak boleh berhenti sebagai hafalan yang diucapkan setiap peringatan 1 Juni. Nilai-nilainya harus hadir dalam tindakan nyata, mulai dari menghormati perbedaan, menjaga persatuan, hingga mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Masa depan bangsa tidak ditentukan oleh seberapa lantang kita menyebut Pancasila, tetapi oleh seberapa konsisten kita mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.”

Aceh

“Melalui pembinaan teknis lanjutan EPSS ini, kami berharap seluruh SKPK di Kabupaten Nagan Raya dapat memperkuat tata kelola statistik sektoral yang akurat, terintegrasi, dan terpercaya guna mendukung pengambilan kebijakan berbasis data serta meningkatkan nilai Indeks Pembangunan Statistik (IPS) Tahun 2026.” — Masitoh, S.K.M., M.K.M., Kabid Statistik Diskominfo Kabupaten Nagan Raya.