NEWS-BIDIK JENEPONTO – Nasib pilu menimpa seorang purnawirawan Tentara Nasional Indonesia (TNI) dari satuan elite Komando Pasukan Khusus (Kopassus), Serma (Purn) Mustari Baso. Setelah puluhan tahun mengabdi dan menjaga kedaulatan negara, di masa senjanya ia harus menjalani hidup penuh keterasingan—terlunta-lunta dan ditelantarkan oleh darah dagingnya sendiri. Jum’at , (8/8/2025)
Mustari kini tinggal di sebuah ruangan sempit berukuran 2×2 meter, di rumah kerabatnya H. Jalling, yang berlokasi di Dusun Kunjung Mange, Desa Kaluku, Kecamatan Batang, Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan.
Ia bukanlah prajurit biasa. Mustari dikenal sebagai sosok disiplin yang pernah menjalani berbagai penugasan berat di medan operasi. Karier militernya diakhiri di Kabupaten Bulukumba, di mana ia sempat tinggal mengontrak rumah bersama istri dan anak.
Namun, kehidupan berubah drastis. Sang istri lebih dulu pergi meninggalkannya. Tak lama, anaknya pun turut pergi, meninggalkan Mustari sendirian. Ironisnya, sebelum benar-benar menghilang, anak kandungnya sempat meminta sang ayah mengambil uang tabungan pensiun di bank.
“Uang yang diambil mencapai lebih dari Rp100 juta. Setelah itu, Pak Mustari benar-benar ditinggalkan,” ujar Dg Sewang, anak dari H. Jalling, kepada wartawan.
Sejak saat itu, Mustari menjalani hidup tanpa tujuan. Ia sempat berpindah dari Bantaeng ke Makassar, dan bertahan hidup seadanya di Terminal Malengkeri selama sepekan.
“Hingga akhirnya, sekitar pukul 12 malam, Pak Mustari datang ke rumah orangtua saya hanya membawa sebuah ransel berisi beberapa potong pakaian dan kartu pensiunan,” tutur Sewang.
Keesokan paginya, barulah keluarga Jalling menyadari bahwa tamu mereka adalah seorang purnawirawan TNI dari satuan Kopassus. Sejak dua tahun terakhir, Mustari tinggal bersama keluarga itu, tanpa kabar atau kunjungan dari anak kandungnya.
“Selama dua tahun beliau tinggal di sini. Anaknya tidak pernah mencari. Kami hanya bisa membantu sebisanya,” ucap Sewang dengan nada lirih.
Kini, Mustari menggantungkan hidup dari belas kasih kerabat. Meski tak lagi hidup dalam kemegahan, jiwa prajuritnya tetap teguh. Ia menyimpan kehormatan sebagai tentara yang pernah berjuang demi bangsa.
“Kami sudah buatkan KTP baru untuk Pak Mustari, beralamat di Kampung Kunjung Mange. Itu bukti bahwa beliau tidak sepenuhnya sendiri,” tutup Sewang.





























