Scroll untuk baca berita
HeadlineJawa BaratNasionalNEWSBIDIK PANGANDARAN

Tangis Sunyi di Ujung Harapan: Sakhiya, Balita Pejuang Kanker yang Menanti Uluran Tangan

4559
×

Tangis Sunyi di Ujung Harapan: Sakhiya, Balita Pejuang Kanker yang Menanti Uluran Tangan

Sebarkan artikel ini
Senyum Kecil di Tengah Derita Besar Sakhiya Raifa Afifah, balita berusia 4 tahun 10 bulan asal Pangandaran, tetap tersenyum meski tubuhnya lemah akibat kanker leukimia stadium 4 yang dideritanya. Foto diambil saat ia menjalani perawatan di RSUP Dr. Sardjito, Yogyakarta. Harapan untuk sembuh masih menyala, menanti uluran tangan dari para dermawan. Kamis, (17/7/2025). Dok. Foto: Newsbidik.com // browibowo

NEWSBIDIK // Pangandaran – Di balik tatapan polos seorang anak perempuan berusia belum genap lima tahun, tersimpan perjuangan besar melawan penyakit yang tak seharusnya dikenalnya di usia belia. Namanya Sakhiya Raifa Afifah, balita asal Jalan Sirnaraga, Dusun Parapat, RT 05 RW 07, Desa Pangandaran, Kecamatan Pangandaran, Kabupaten Pangandaran, yang kini tengah menjalani perawatan intensif di RSUP Dr. Sardjito, Yogyakarta. Kamis, (17/7/2025)

 

Sakhiya didiagnosis menderita kanker leukimia stadium 4—sebuah vonis medis yang begitu berat, terlebih bagi anak sekecil dirinya.

 

Awalnya, Sakhiya tumbuh seperti anak-anak lainnya. Ceria, aktif, dan penuh semangat. Namun semuanya berubah ketika ia mulai mengalami demam disertai batuk serta pilek yang tak kunjung sembuh. Kondisinya semakin mengkhawatirkan saat benjolan muncul di leher, dan tubuh kecilnya mulai kehilangan tenaga.

 

“Awalnya kami kira hanya flu biasa. Tapi saat benjolan di lehernya makin besar dan dia semakin lemas, kami tahu ini bukan sakit biasa,” kenang sang ayah, Adi Gian Aprilianto, dengan suara berat menahan emosi.

 

Pemeriksaan demi pemeriksaan akhirnya mengungkap kenyataan pahit. Sakhiya mengidap leukimia stadium lanjut, di mana sel kanker telah menyebar luas dan memerlukan penanganan intensif serta berkelanjutan.

 

“Dunia serasa runtuh saat dokter menyampaikan diagnosa itu. Tidak ada orang tua yang siap mendengar anaknya terkena kanker, apalagi stadium empat,” ujarnya lirih.

 

Sejak saat itu, kehidupan keluarga Sakhiya berubah drastis. Mereka meninggalkan rumah dan pekerjaan untuk mendampingi buah hati menjalani rangkaian pengobatan di Yogyakarta. Sakhiya kini harus menjalani kemoterapi intensif, transfusi darah rutin, hingga pemantauan medis hampir setiap hari.

 

Namun, perjuangan medis itu juga dibayangi oleh tekanan ekonomi. Meski sebagian biaya ditanggung BPJS, banyak pengeluaran lain yang harus ditanggung pribadi—seperti biaya obat di luar tanggungan, akomodasi, transportasi, hingga kebutuhan harian selama di luar kota.

“Kami sudah menjual barang-barang di rumah, bahkan menggadaikan yang bisa digadaikan. Tapi tetap belum cukup. Kami butuh uluran tangan dari siapa pun yang peduli,” tutur sang ibu, Sahrotul Hidayah, dengan mata berkaca-kaca.

 

Dalam kondisi serba terbatas ini, keluarga Sakhiya mengajak masyarakat luas untuk turut meringankan beban yang mereka tanggung. Bantuan sekecil apa pun akan sangat berarti untuk membantu proses penyembuhan balita yang tengah bertarung melawan penyakit mematikan.

 

Bagi masyarakat yang tergerak hati untuk membantu, donasi dapat disalurkan melalui:

 

Bank Mandiri

Nomor Rekening: 1770013972242

Atas Nama: Adi Gian Aprilianto

 

Konfirmasi donasi dapat dilakukan melalui Agus Giantoro (Agit) di nomor 0877-1995-8496.

 

“Kami tidak bisa membalas kebaikan para dermawan kecuali dengan doa. Semoga setiap rupiah yang disumbangkan menjadi jalan kesembuhan bagi Sakhiya, dan semoga Allah SWT membalas dengan kesehatan serta rezeki yang berlipat ganda,” ucap Sahrotul penuh harap.

 

Kini, harapan hidup Sakhiya tak hanya bertumpu pada pengobatan medis, namun juga pada kepedulian dan cinta kasih sesama. Mari ulurkan tangan untuk membantu Sakhiya kembali tersenyum, bermain, dan menapaki masa depan yang seharusnya cerah.

Tinggalkan Balasan

Daerah

“Polres Pangandaran memastikan penanganan dugaan perusakan 63 pohon karet milik PTPN I Regional 2 masih berada pada tahap penyelidikan. Kepolisian menegaskan seluruh laporan akan diproses secara profesional, objektif, dan berdasarkan alat bukti, sementara masyarakat diminta menghormati proses hukum serta tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.”

Daerah

“Final Camat Cup 2026 di Alun-alun Malangbong berlangsung meriah dengan antusiasme ratusan penonton. Plt Camat Malangbong mengajak masyarakat menjaga sportivitas dan ketertiban, sementara KOK Malangbong mengapresiasi kerja keras panitia yang telah menyukseskan turnamen bola voli antar desa sebagai ajang pembinaan atlet sekaligus mempererat persatuan masyarakat.”

Aceh

“Dugaan aktivitas illegal logging di kawasan hutan lindung Beutong Ateuh, Kabupaten Nagan Raya, kembali menjadi sorotan publik. Masyarakat mendesak aparat penegak hukum, KPH Wilayah IV, dan Satgas PKH bertindak tegas, transparan, serta mengusut tuntas apabila ditemukan indikasi keterlibatan pihak-pihak yang melindungi praktik pembalakan liar tersebut. Penegakan hukum tanpa pandang bulu dinilai menjadi kunci menyelamatkan hutan Aceh dari kerusakan yang semakin meluas.”

Daerah

“Diduga sebuah rumah di Ngemplak, Boyolali, digunakan sebagai lokasi penyimpanan dan penjualan LPG tanpa izin. Pemilik rumah mengaku bukan agen maupun pangkalan resmi serta menyampaikan adanya klaim keterlibatan pihak lain, termasuk menyebut oknum kepolisian sebagai ‘backing’. Seluruh pengakuan tersebut masih bersifat sepihak dan belum mendapat konfirmasi dari pihak yang disebut maupun aparat berwenang.”

Aceh

“Persoalan yang mencuat di RSUD Sultan Iskandar Muda tidak hanya menyangkut administrasi dan keuangan, tetapi juga menyentuh kualitas pelayanan publik yang dirasakan langsung oleh masyarakat. Mulai dari keterlambatan pembayaran TPP ASN, persoalan sanitasi, hingga temuan BPK terkait indikasi pembayaran jasa pelayanan kesehatan secara ganda menjadi perhatian yang diharapkan segera ditindaklanjuti melalui evaluasi menyeluruh dan langkah perbaikan tata kelola oleh Pemerintah Kabupaten Nagan Raya.”